LANGIT7.ID, Jakarta -
Mualaf merupakan sebutan bagi orang non muslim yang baru saja memeluk agama Islam. Momen ini dapat diartikan sebagai orang yang menerima hidayah agar memeluk agama Islam.
Berpindah keyakinan merupakan hal tersulit yang kita alami. Ada banyak hal yang membuat kita bertekad untuk pindah keyakinan, mulai dari lingkungan, melihat sebuah ceramah maupun melihat kitab suci yang akhirnya membuat hati kita tergerak.
Pendiri Pesantren Mualaf, Ustadz Syamsul Arifin Nababan mengatakan, untuk masuk Islam bukan hanya dengan mengucapkan dua (2) kalimat syahadat saja. Tetapi juga harus yakin dari hati agar nantinya tidak salah jalan.
Baca Juga: Belajar Agama Pilih Guru Jangan Asal-asalan"Allah SWT tidak sembarangan menjatuhkan hidayah kepada seseorang. Hidayah itu diberikan kepada orang yang dipilih oleh Allah SWT," kata Ustadz Syamsul Arifin di acara Sarasehan Mualaf II yang diikuti
Langit7.id di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Sabtu (17/12/2022).
Menurut Ustadz Arifin, tidak ada paksaan bagi non muslim untuk masuk Islam. Hal itu dikarenakan sesuatu yang dipaksakan tidak akan berhasil.
"Allah SWT itu Demokrat, dia tidak memaksa umatnya untuk masuk
islam. Dia membiarkan umatnya untuk memilih haknya untuk beragama. Jadi, kita sebagai umatnya juga tidak boleh memaksakan orang masuk islam," ujarnya.
Baca Juga: Ustaz Ali Hasan Bahar Ajak Umat Paham Konteks saat Belajar IslamSelain itu, Ustadz Arifin juga menyarankan kepada orang yang baru mualaf harus siap meninggalkan kehidupan agama sebelumnya. Seorang mualaf pun harus taat pada agama yang dianut saat ini, yaitu Islam.
"Harus siap diatur dan mengikuti aturan Allah SWT. Jangan masuk Islam tapi sembahyang tidak mau. Kalau banyak masuk Islam saja tapi tidak ikut aturan, ya lebih baik jangan," ucap Ustadz Arifin.
"Mualaf itu harus dari hati karena kita harus belajar Al-Qur'an yang jika di lihat mualaf pasti serasa sulit. Apalagi harus bangun dini hari untuk melaksanakan ibadah salat subuh," tambahnya.
Baca Juga: (gar)