LANGIT7.ID, Jakarta - Ummat Islam memiliki anjuran dalam berpakaian, di antaranya bagi kaum Muslim. Walau cara berpakaian Islami, bukan berarti tak bisa tampil bergaya atau modis. Justru dengan tampilan yang lebih trendy, dipadukan dengan gaya berpakaian sesuai syariat, Islam akan lebih modern.
Sebagian dari ummat Islam mungkin ragu memakai celana cingkrang ke mal. Khawatir diledek kebanjiran atau dicap sebagai Islam fanatik. Padahal bila Sahabat Langit7 dapat memadukan busana, justru akan terlihat modis.
Bukankah ada sebagian orang yang menganggap menggulung celana bagian dari trend? Lalu mengapa malu mengenakan celana cingkrang? Padahal menjulurkan kain (celana/sarung) hingga di bawah mata kaki merupakan dosa besar.
Baca Juga: Inspirasi Hijab Panjang bagi Muslimah Muda ala SelebgramDalam hadis yang disampaikan Sa'id al-Khudri, Rasulullah bersabda: "Sarungnya seorang muslim sampai batas tengah betisnya, dan tidak masalah bila dalam batas antara tengah betisnya dan kedua mata kakinya. Maka apa saja yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka." (HR Abu Daud, Ibn Majah dan Ahmad).
Begitu juga dari Khudzaifah bin Yaman, Nabi mengatakan: "Batas sarung sampai pada tengah betis dan otot. Bilamana anda enggan maka lebih rendah atau lebih rendah lagi selagi tidak sampai pada kedua mata kaki." (HR Nasai, Tirmudzi dan Ibn Majah).
Bila ada yang menganggap celana cingkrang ketinggalan zaman, justru mereka lah yang tidak melek dengan fashion. Sebab tidak jarang kita melihat para artis Korea di K-Drama atau K-Pop justru menggenakan celana ngatung.
Lalu pada pada 14 November 2016, situs majalah gaya hidup pria GQ memuat sebuah artikel berjudul 'The Definitive Guide to Cuffing, Rolling, and Stacking Your Jeans'. Dalam artikelnya dituliskan bahwa banyak pria yang tertarik pada tren celana bergaya cingkrang.
Bahkan model ini sudah kerap catwalk berbagai label high-fashion di pekan mode busana pria 2010. Bukti lain kalau celana cingkrang trendy di era 2000-an, yakni pernah diperkenalkan desainer Thom Browne pada 2004 lalu.
(bal)