LANGIT7.ID - , Jakarta - Manusia tak luput dari
dosa dan kesalahan, karenanya sangat penting untuk berbenah diri dengan cara
muhasabah diri. Bermuhasabah diri ini berarti mengevaluasi perbuatan, tutur kata, dan amal yang telah dilakukan.
Bagi sebagian orang akhir tahun dianggap menjadi momen tepat untuk bermuhasabah diri. Sehingga di tahun selanjutnya dapat mengubah diri menjadi lebih baik lagi.
Namun, bagi sebagian lagi melihat semua waktu tepat untuk melakukan
introspeksi diri. Lalu, kapan momen yang pas untuk muhasabah diri?
Baca juga: Lewat Muhasabah Diri, Aliah Sayuti Mampu Lampaui Masa SulitUstaz Abdurahman Al Habsyi mengatakan konsep muhasabah dilakukan setiap saat, waktu dan setiap detik. Artinya tidak memilih momentum-momentum tertentu.
"Bermuhasabah harusnya setiap hari. Ketika kita memasuki waktu pagi kita bermuhasabah tentang apa yang telah kita lakukan sejak sore hari kemarin sampai waktu pagi ini. Kemudian saat sore hari kita bermuhasabah lagi tentang apa yang telah dilakukan di pagi hari hingga menjelang sore. Sehingga mereka yang rajin melakukan muhasabah, maka akan terkontrol hidupnya dan jauh lebih bermakna hidupnya," ujar Ustaz Rahman kepada Langit7, Kamis (22/12/2022).
Pun begitu, Ustaz Rahman tak mempermasalahkan masyarakat yang melakukan muhasabah di akhir tahun. Bahkan, tambahnya, hal tersebut jauh lebih baik daripada merayakan tahun baru dengan pesta pora.
"Daripada di akhir tahun diisi dengan acara yang hura-hura atau pesta pora yang mana akhirnya berujung pada kemaksiatan, maka alangkah baiknya di akhir tahun tersebut diisi dengan muhasabah," katanya.
Baca juga: Manfaat Muhasabah: Membersihkan HatiDia menambahkan, manfaatkan momen berkumpul bersama teman dan keluarga sebagai perenungan.
"Setelahnya renungi kembali niat apa yang telah kita tanamkan di awal tahun yang lalu namun belum terlaksana. Kemudian, apa yang bakal kita lakukan di masa-masa mendatang atau di tahun-tahun berikutnya," ucapnya.
Ustaz menjelaskan kitab Arbain Nawawiyah karya Imam an-Nawawi, Rasulullah SAW bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."
"Ini merupakan acuan muhasabah bahwasanya, 'Hai manusia engkau hidup di dunia ini, tidak bakal tinggal lama. Engkau ini orang asing yang tiba-tiba ada kemudian nanti bakalan tiada dan cuma sebentar'," papar Ustaz Rahman.
Menurut Ustaz Rahman, orang asing tentunya tidak leluasa ketika berada di suatu tempat. Sebagaimana seorang musafir yang mengetahui tidak adakan tinggal lama dan selalu berpindah dari satu titik ke titik berikutnya.
Baca juga: Malam Tahun Baru, UAS Sarankan Takmir Masjid Gelar Pengajian dan Muhasabah"Seorang musafir tentunya ketika berjalan dia penuh dengan kehati-hatian agar sampai pada titik tujuan berikutnya. Ada tujuan yang ingin dituju maka dia menyiapkan bekal sebagai persiapan. Dan ada kehati-hatian dalam perjalanannya. Kemudian banyak opsi yang dia pikirkan kalau terdapat hal-hal yang terjadi," tandas Ustaz Rahman.
(est)