LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Asrorun Ni’am Sholeh, mengungkapkan, budaya digital tidak boleh menjadi budaya konvensional yang rendah literasi. Itu merupakan salah satu cara menangkal hoaks di
media sosial.
“Karena literasi yang rendah menyebabkan hoaks,” kata Ni’am dalam Pelatihan Kepemimpinan Milenial pada Era Digital yang digelar Kemenpora bekerjasama dengan Komisi Infokom MUI di Oasis Amir Hotel Jakarta, dikutip Selasa (27/12/2022).
Menurut Ni’am, ada empat prasyarat pilar literasi digital yang harus dimiliki anak muda saat ini. Di antaranya
digital skill (kemampuan digital),
digital ethics (etika berdigital), budaya digital, dan
digital safety.
Baca Juga: Informasi Negatif di Medsos, Dadang Kahmad: Itu Kemungkaran
Ruang digital harus memiliki hukum dan etika yang harus dipatuhi. Selain itu, lingkungan hidup manusia juga semakin beragama dan luas. Maka itu, fitrah manusia yang ingin berbuat baik harus dihidupkan.
“Fitrah seorang manusia itu mewujudkan kebaikan,” kataya. Selain itu, cara pandang keagamaan harus sering diantisipasi untuk mengawal potensi kebaikan dalam perkembangan digital.
Dalam konteks kebangsaan, kata Ni’am, harus ada pola pikir kebangsaan yang kokoh. Pola pikir itu berkomitmen untuk melakukan proses perubahan. Dia mengutip kaidah fikih
‘Al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (mempertahankan yang baik dan mengambil yang lebih baik) menghadapi proses perubahan tersebut.
“Dengan demikian perang identitas pada saat itu sangat penting,” kata Ni’am.
Baca Juga: Tuntunan Islam Jadikan Media Sosial Penuh Manfaat
Sementara, ketua Komisi Infokom MUI, KH Mabroer MS, mengatakan, kesadaran akan hal tersebut sangat penting untuk meluruskan kesadaran bersama-sama dalam membangun peradaban Islam ke depan.
Menurut dia, tren generasi muda zaman sekarang sangat eksklusif. Maka itu, dia menyebut MUI akan membuat program digital community islamy di Jawa Barat dibantu kawasan Asia Tenggara.
“Salah satu agenda kita saat ini adalah mengembalikan makna jihad yang sebenarnya, jadi jihad bukan hanya sebagai takbir, melainkan mempunyai banyak makna,” ucapnya.
Baca Juga: Tips agar Tak Terjerumus Adu Domba di Media Sosial
Pemahaman Islam
rahmatan lil-alamin dan Islam wasathiyah harus mewarnai media sosial. Dengan begitu, media sosial tidak lagi digunakan untuk hal-hal negatif seperti menggunjing orang lain.
“Padahal, menggunakan medsos itu harus bijak dan harus menghasilkan konten yang positif,” ujar Kiai Mabroer.
(jqf)