LANGIT7.ID, Jakarta - Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung berdampak pada Pondok Pesantren Nurul Iman. Pesantren tersebut berada di Jalan Cibaduyut Raya, Blok TVRI III, Kelurahan Cibaduyut Wetan, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.
Lokasi pesantren berada di samping Tol Cipularang, dekat pintu keluar tol Moh Toha, sehingga pesantren dan lembaga-lembaga formal seperti Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) harus direlokasi ke tempat baru.
Baca Juga: Kisah Lendo Novo, Menggagas Sekolah Alam dari Balik Jeruji Relokasi pondok pesantren telah dimulai pada 2020. Berdasarkan rencana pembangunan pemerintah, di jalur itu juga akan dibangun lintas rel Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Pimpinan Pesantren Nurul Iman, KH Khoiruddin Aly, mengatakan, setelah proses ganti-rugi dan relokasi, kini telah dibangun kembali gedung pesantren di lahan yang baru. Lokasi baru tidak jauh dari lokasi yang lama. Sekitar 2000 santri sudah memulai kembali kegiatan pembelajaran, baik daring maupun luring.
“Alhamdulillah walaupun pembangunan pesantren belum sepenuhnya selesai di lahan dan gedung yang baru, para santri dan siswa sudah mulai kembali beraktivitas belajar dan mengaji dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” ucap KH Khoiruddin Aly, dikutip laman resmi NU, Senin (23/8/2021).
Pesantren Nurul Iman berawal dari Masjid Jami’ Al-Muhajirin yang didirikan oleh almarhum KH Saepuddin pada 1986. KH Saepuddin merupakan alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah Bandung. Sementara, KH Khoiruddin Aly adalah salah satu menantu KH Saepuddin.
Baca Juga: Mahfudzot Hari Ini: Beruntunglah Mereka yang Istiqomah, Sungguh-Sungguh, dan SabarPada 1996, bangunan pertama yang diprakarsai KH Khoriddin Ali dibangun di pesantren tersebut. Dalam pengembangan pesantren, KH Khoiruddin Aly dibantu oleh adik kandungnya, Ustadz Shofwan Aly, dan adik iparnya, Ustadz Ayi Saepullah.
Pesantren tersebut dikelola berdasarkan kaidah Al-Muhafadhah ‘ala qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Maka itu, selain mengkaji kitab kuning, pesantren itu juga menyelenggarakan berbagai lembaga pendidikan formal yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Iman.
Lembaga-lembaga formal itu di antaranya Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Pada 2021, santri yang tinggal di pesantren berjumlah 800 orang terdiri dari putra dan putri. Sementara, jumlah keseluruhan dari RA sama MA mencapai 2000 orang.
Baca Juga:
Kangen Zainudin MZ: Pemimpin Harus Utamakan Keselamatan Ummat
Daun Pepaya dan Putri Malu, Insektisida Alami Jitu dari Mahasiswa(asf)