LANGIT7.ID, Jakarta - Memasuki musim dingin,
Rumah Sakit (RS) di Afghanistan di penuhi pasien anak-anak pengidap penyakit Pneumonia. Sejak bulan November, sebanyak 6.700 anak dilaporkan memerlukan perawatan intensif rumah sakit.
Melansir dari
Reuters, Jumat (6/1/2023), jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat pada bulan yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 3.700. Penyakit tersebut disebabkan oleh flu dan kekurangan gizi sehingga yang memicu permasalahan pernapasan dan paru-paru.
"Pasien kami meningkat dibandingkan sebelumnya, alasan utamanya adalah ekonomi," kata kepala Penyakit Dalam Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul, Mohammad Arif Hassanzai.
Baca Juga: Legislator Minta Pelaku Pariwisata Tangkap Momentum Pencabutan PPKMDia menilai bahwa sebagian besar warga
Afghanistan tidak mampu membeli pemanas yang memadai. Sebagian besar warga Afghanistan hanya mampu membeli bahan pangan untuk kebutuhan dapur sehari-hari.
"Mereka seringkali harus memilih antara makanan dan bahan bakar akibat krisis ekonomi melanda negara itu," ujarnya.
Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Lucien Christen mengatakan, sebelum memasuki musim dingin, jumlah balita pengidap pneumonia mengalami peningkatan sebesar 50 persen pada 2022 dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: DK PBB Tegaskan Kembali Status Quo Masjid Al-Aqsa"Orang-orang meninggal karena pneumonia tahun ini, termasuk anak-anak," ungkap Lucien.
Krisis kesehatan itu diperkirakan akan semakin memburuk setelah banyak lembaga bantuan kemanusiaan menangguhkan operasinya di Afghanistan karena Taliban melarang mereka memiliki staf perempuan.
Selain itu, bantuan pembangunan luar negeri Afghanistan telah dibatasi akibat pemberlakukan sanksi Barat dan pembekuan aset bank sentral negara semakin menghambat sistem ekonomi negara.
Baca Juga:
Kemenkes Gunakan Sains dan Teknologi untuk Redam Kenaikan Kasus Covid-19
Lumpuh hingga Koma, Awas Ini Bahaya Shaken Baby Syndrome(gar)