LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan sejumlah inisiatif untuk meredam kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia. Langkah yang dilakukan berupa pemanfaatan dari sisi sains dan teknologi, guna memproses indentifikasi jenis atau varian virus.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi G. Sadikin mengatakan langkah ini dinilai penting karena semua lonjakan kasus yang terjadi di seluruh dunia, disebabkan bukan oleh pergerakan atau mobilitas. Akan tetapi, karena adanya varian baru.
"Sehingga varian-varian baru ini perlu diidentifikasi secara rutin dan diketahui pola penyebarannya seperti apa," kata Budi dalam keterangannnya dikutip Jum'at (6/1/2022).
Baca juga: Pakar Hukum: Penggunaan Dana Zakat untuk Politik Bisa Dipidana Tercatat pada akhir Desember 2020, Indonesia baru berhasil mengidentifikasi sekitar 140 varian baru yang dilakukan selama 9 bulan di 16 laboratorium. Kini, jumlah laboratorium dan kemampuan identifikasi varian baru di Indonesia telah berkembang pesat.
”Sekarang di Desember 2022 ini, kita sudah tumbuh dari 16 lab menjadi 41 lab, dengan 56 alat. Dan kita sudah berhasil meningkatkan secara drastis kapasitas sequencing kita yang tadinya cuma 140 dalam 9 bulan, menjadi di atas 5 ribu dalam waktu sebulan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi menerangkan inisiatif lain adalah menyiapkan kebutuhan oksigen di rumah sakit serta bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebab, kata Budi ketika terjadi lonjakan kasus variian Delta, sempat terjadi kelangkaan oksigen di masyarakat.
Dengan demikian, Kemenkes menggandeng berbagai pihak untuk segera mengatasi kekurangan oksigen tersebut, dengan mendatangkan oksigen dari luar negeri.
"Kemenkes juga membuat terobosan dengan meluncurkan layanan telemedisin bagi pasien yang positif Covid-19. Saat itu, masyarakat yang melakukan tes Covid-19 bisa langsung tahu hasilnya," ungkapnya.
Setelah itu, hasil otomatis masuk ke aplikasi PeduliLindungi dan akan diperbarui statusnya untuk kemudian terhubung dengan WhatsApp dan dikirimkan kepada orang yang positif agar dapat memanfaatkan layanan telemedisin.
Saat pelaksanaan layanan telemedisin ini Kemenkes bekerja sama dengan 17 penyedia layanan telemedisin dan tersedia di 12 kota-kota besar secara gratis. Total ada sekitar 1,6 juta pasien positif Covid-19 yang menerima pesan WhatsApp untuk melanjutkan konsultasi lewat telemedisin.
Baca juga: BPJS Wilayah Papua Permudah Layanan Kesehatan dengan KTP”Dalam jangka waktu satu tahun ada 500 ribuan orang yang membutuhkan obat-obatan bisa kita layani dengan telemedisin, langsung dikasih tele-resep dan dikirim obatnya,” terangnya.
Inovasi lainnya yang dilakukan Kemenkes selama pandemi adalah dengan menghadirkan aplikasi PeduliLindungi ketika pandemi Covid-19 yang antara lain dimanfaatkan untuk tracing dan surveilans masyarakat ketika diketahui ada warga yang positif Covid-19.
Saat ini PeduliLindungi tercatat menjadi salah satu aplikasi kesehatan terbesar di dunia dan telah di download oleh sekitar 104 juta masyarakat Indonesia.
(sof)