LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah Jerman merilis sebuah laporan yang merinci masalah-masalah
Islamofobia di negara tersebut. Itu seiring seruan aktivis anti-rasisme untuk melawan sikap rasis kepada kelompok di negara tersebut.
Rasisme di Jerman masih menjadi isu utama hingga saat ini. Aktivis anti-rasisme, Reem Alabali-Radovan, mengatakan, isu rasisme, terutama islamophobia, sangat penting dingkat ke ruang publik untuk didiskusikan.
"Penting untuk menyebutkan dan mendiskusikan rasisme anti-Muslim dalam laporan status ini,” kata Reem, melansir Islam Chanel, Sabtu (21/1/2023).
Baca Juga: Negara-Negara Muslim Jadi Tempat Paling Aman di Dunia
Dia mengatakan, isu rasisme anti-muslim sudah muncul berulang kali di Jerman. Terlebih saat Reem melakukan pertemuan dengan komunitas muslim yang ada di negara tersebut. Dalam laporan yang dikeluarkan pemerintah, orang Jerman memiliki sikap paling negatif terhadap Muslim setelah komunitas Sinti dan Roma.
Dalam sebuah survei disebutkan, sepertiga koresponden menginginkan jumlah muslim di Jerman harus dibatasi. 27% mengatakan sudah terlalu banyak umat Islam yang tinggal di Jerman.
Laporan itu juga menyebut, berbagai serangan kebencian dengan disertai narasi kejam sering diarahkan kepada masyarakat muslim yang ada di negara tersebut. Reem menekankan, rasisme tidak terbatas pada kebencian dan kekerasan.
“Itu juga terjadi dalam agresi mikro dan diskriminasi sistemik di berbagai bidang, termasuk tempat kerja. Seharusnya wanita berhijab dan kualifikasi yang sama dengan wanita dengan nama yang lebih 'terdengar Jerman' empat kali lebih kecil kemungkinannya dipanggil untuk wawancara kerja," katanya.
Baca Juga: Islamofobia di Korsel, Kepala Babi Ditinggal di Depan Masjid
Selain itu, Reem menekankan pentingnya memberikan bantuan kepada setiap individu yang mengalami serangan rasisme. Dia menyebut, rasisme di Jerman sudah bertahun-tahun dan diabaikan, padahal ada gerakan secara sistematik.
"Rasisme bukanlah konsep abstrak, tapi kenyataan yang menyakitkan bagi banyak orang di masyarakat kita. Ini adalah ancaman besar bagi demokrasi, karena menyerang orang dan martabat kemanusiaan mereka, yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar,” ucapnya.
Hampir 90% responden mengakui rasisme merupakan masalah di Jerman. 22% menyatakan mereka pernah mengalaminya sendiri. Laporan tersebut juga mencatat hambatan yang dihadapi banyak orang dalam melaporkan insiden rasis.
Baca Juga: Islamofobia di Kanada Meningkat, Terbaru Imam Masjid Diserang
Data yang dirilis bulan lalu menunjukkan bahwa dalam tiga bulan hingga September, terjadi peningkatan 74% kejahatan anti-Muslim di Jerman dibandingkan kuartal sebelumnya.
Menurut data parlemen federal Jerman, ini dibandingkan dengan 83 pelanggaran terhadap Muslim di kuartal pertama dan 69 di kuartal kedua.
Laporan tersebut muncul saat negara tersebut bersaing dengan meningkatnya pengaruh sayap kanan, yang memicu banyak narasi negatif seputar Muslim di masyarakat Jerman.
(jqf)