LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Ilmu Aqidah dan Hadits asal Minangkabau, Buya Dr. Arrazy Hasyim, membagikan tips kepada orang tua yang hendak menyekolahkan anak ke pondok pesantren atau sekolah Islam. Tips itu penting agar anak memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW.
Baca Juga: Buya Arrazy Hasyim, Ulama Muda Pembela Aqidah Aswaja dari Ranah Minang
Dia mengutip hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari,
Man Yuridillahu Bihi Khairan Yufaqqihhu Fiddin yang artinya Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah pahamkan atasnya perihal agama.”
Salah satu ciri
tafaqquh yang disinggung dalam hadits di atas adalah dipertemukan dengan para ahli agama. Namun tentu bukan ahli abal-abal, tapi mereka yang mempunyai garansi kesahihan dalam ilmu. Poin ini harus diperhatikan dengan seksama agar tidak salah memondokkan anak.
“Jangan bangga dulu kalau anak kita sudah sekolah agama, jika sekolah agama yang kita maksud belum jelas hulu atau sumbernya dari mana. Apakah jika ingin memondokkan anak kita mencari pondok yang serba instan atau bangunan bagus? Bukan. Yang santrinya banyak? Belum tentu. Yang kiainya terkenal? Belum tentu,” kata Buya Arrazy melalui kanal youtube Café Rumi Jakarta, dikutip Selasa (24/8/2021).
Buya Arrazy lalu menjelaskan dua syarat utama jika ingin memondokkan anak. Syarat itu antara lain:
1. Mengenali Pendiri dan Guru-Guru PesantrenMenurut Buya Arrazy, mengenali pendiri dan guru-guru yang ada dalam pesantren sangat penting. Ini menjadi fondasi itu utama sebelum memilihkan pondok untuk anak.
“Kenali pendiri dan guru-guru yang ada di pesantren tersebut. Apakah guru-gurunya terhubung kepada ulama-ulama
ahlussunnah. Jika Qur’an, maka pastikan sumbernya benar-benar dari Rasulullah,” kata Buya Arrazy.
Ibnu Sirin (110 H) mengatakan, Ilmu itu sebenarnya adalah agama, lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.
Ilmu agama dalam perkataan Buya Arrazy meliputi semua bidang keilmuan dalam bidang agama, seperti ilmu Al-qur’an, ilmu fiqih, ilmu hadits, hingga ilmu agama. Semua ilmu-ilmu itu merupakan hakikat dalam beragama, maka perlu memperhatikan kepada siapa berguru.
2. Pesantren Menerapkan Prinsip Tafaqquh Fiddin
Tafaqquh adalah usaha yang bukan instan atau memahami ilmu agama secara bertahap. Ibnu Mubarak (181 H) mengatakan, bersanad itu bagian dari agama. Ini bisa dikiaskan dari belajar di pondok pesantren. Kalau bukan karena sanad keilmuan, maka semua orang akan berbicara suatu bidang ilmu meski tidak memiliki keahlian di bidang tersebut.
“Orang seperti ini (tidak bersanad) akan mensyirikkan yang tidak syirik, mengkufurkan yang tidak kufur, menyalahkan yang tidak salah. Cuma karena berbeda dengan dia, dianggap salah dan dianggap menyimpang,” ucap Buya Arrazy.
Dia mengutip surah At-Taubah ayat 122. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak sepatutnya orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa kelompok yang memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali kepada mereka supaya mereka menjaga diri.”
“Pada ayat ini disebutkan kata tafaqquh. Ini merupakan berusaha menjalani proses pemahaman atau pendalaman agama. Maka ciri-ciri pondok pesantren yang sahih adalah mengajarkan kesabaran kepada santri agar memahami persoalan keagamaan secara bertahap,” jelas murid dari almarhum Prof KH Ali Mustafa Yaqub ini.
Orang yang belajar agama secara bertahap itulah yang dimaksud Ibnu Abbas dalam riwayat Imam Bukhari saat menafsirkan surah Ali-Imran ayat 79. Allah Ta’ala berfirman, Jadilah kalian orang-orang Rabbani karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan senantiasa mempelajarinya.”
“Belajarnya satu persatu atau tahap pertahap. Tidak ada ilmu instan. Mari bersabar, mari bersanad, mari pilih pondok yang sesuai dengan
tafaqquh fi-ddin,” pungkas Buya Arrazy.
(jqf)