LANGIT7.ID, Jakarta - Pada 1993, KH Abdurraham Wahid atau Gus Dur menyebut ada tiga pendekar Islam dari Chicago. Ketiganya adalah Nurcholish Madjid atau Cak Nur, Amien Rais, dan Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Pendekar merujuk pada aktivitas intelektual ketiga
tokoh itu dalam gerakan maupun pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Sedangkan Chicago merujuk asal universitas di mana ketiganya menempuh pendidikan, yakni Universitas Chicago, Amerika Serikat.
Cak Nur dan Amien Rais lulus pada 1984 sementara Buya Syafi’i pada 1983. Setelah pulang ke Indonesia, ketiganya mengembangkan pemikiran yang khas dan berbaur dalam pergerakan Islam.
Baca juga: Kisah Abdur Raheem Green, Muallaf Asal Inggris Jadi Pendakwah Cak Nur kemudian dikenal sebagai tokoh pembaharu yang mengusung konsep inklusivisme Islam yang menekankan pentingnya mencari persamaan di antara semua agama dan semua kebudayaan. Meski demikian, pandangan visionernya tak begitu saja diterima semua kalangan, ia menjadi kontroversial ketika “memekikkan” Islam Yes, Partai Islam No.
Dalam artikelnya di kolom Majalah Tempo, Gus Dur menuliskan: Sikap memisahkan diri dari universalitas peradaban manusia hanya akan menyempitkan Islam sendiri, sebagai cara hidup bagian cukup besar dari umat manusia.
Inklusivitas Islam haruslah dipertahankan kalau vitalitas agama terakhir itu ingin dapat dilestarikan. Sebab, keharusan mengembangkan inklusivitas Islam itu, dalam pandangan Nurcholish, hanya dapat terwujud dalam lembaga politik formal Islam.
Adapun Buya Syafi’i Ma’arif hingga akhir hayatnya dikenal sebagai guru bangsa karena pemikirannya yang banyak bersentuhan dengan tema-tema kebangsaan dan kebinekaan. Sikapnya yang plural, kritis, memosisikannya sebagai “Bapak Bangsa”.
Baca juga: Muhammad Ali, Legenda Tinju Dunia Jadi Muslim Berpengaruh Pendekar yang ketiga adalah Amien Rais, dikenal sebagai “Bapak Reformasi” karena peran sentralnya yang aktif mengkritisi kebijakan orde baru sejak pertengahan 1990. Ia menjadi lokomotif perubahan politik dengan turut menumbangkan rezim Soeharto pada 1998.
Dalam perjalanan waktu, meskipun sama-sama lahir dari rahim Muhammadiyah, Amien Rais dan Buya Syafi’i mengambil jalan yang berbeda dalam mengarahkan gerbong kebangsaan. Sementara Buya Syafi’i tetap mengambil posisi sebagai Wrehaspati, Amien Rais justru menyelam ke dalam gemuruh politik praktis.
Sikapnya konsisten sebagai oposisi yang senantiasa mengkritisi pemerintah dan menganggap kekuasaan penting untuk menegakkan nilai-nilai
Islam. Terbaru, dia mendirikan Partai Ummat pada April 2021 dan lolos sebagai peserta pemilu 2024 meskipun sempat diwarnai masalah syarat administratif.
(sof)