LANGIT7.ID, Jakarta - Gempa Magnitudo 7,8 di
Turki disebut berdampak pada kontestasi pemilihan umum (Pemilu) Turki yang rencananya digelar 14 Mei mendatang. Dampak tersebut imbas dari lambatnya penanganan pemerintah Turki dalam merespons penanganan gempa yang terjadi pada Senin (6/2) lalu.
Presiden Turki,
Recep Tayyip Erdogan sebelumnya telah mengumumkan bahwa tanggal 14 Mei akan menjadi tanggal pemilihan parlemen dan presiden berikutnya di Turki. Dia berencana mencalonkan kembali untuk maju sebagai Presiden Turki.
Namun, bencana
gempa Turki menjadi tantangan bagi Erdogan dalam pemilihan pada Mei mendatang. Pasalnya, para korban selamat mengkritik upaya pemerintah dalam penanganan bencana yang dinilai lamban. Mereka dilanda duka mendalam dengan keterbasan makanan dan cuaca dingin ekstrem.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Turki Tembus 12.000 Orang, Erdogan Akui Sulit Dapat BantuanKorban selamat, Melek (64), mengeluhkan kurangnya jumlah tim penyelamat sehingga menjadikan proses evakuasi lebih memakan waktu. "Kami selamat dari gempa, tapi kami akan mati di sini karena kelaparan atau kedinginan," katanya dilansir dari
Reuters, Kamis (9/2/2023).
Kritik para warga korban gempa yang selamat dinilai dapat menjatuhkan reputasinya. Namun di sisi lain, analis justru menyebutkan hal tersebut dapat menguntungkan Erdogan. Alasannya, karena Erdogan dapat menggalang dukungan nasional seputar respons krisis dan memperkuat posisinya.
Erdogan sendiri enggan untuk menanggapi hal itu lebih lanjut. Bahkan, Erdogan mengutuk keras terkait pemanfaatan kepentingan politik dalam situasi bencana ini.
"Ini adalah waktu untuk persatuan dan solidaritas. Dalam periode seperti ini, saya tidak dapat membiarkan orang melakukan kampanye negatif untuk kepentingan politik," ucap Erdogan.
Baca Juga:
Kedubes Turki di Jakarta Buka Donasi untuk Korban Gempa
Olok-olok Gempa Turki-Suriah, Majalah Charlie Hebdo Dikecam(gar)