LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, menyebut integrasi kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (
BRIN) tidak berhasil.
Format kelembagaan BRIN yang menggabungkan seluruh tugas seluruh tugas dan fungsi riset di kementerian dan lembaga (K/L) jauh dari harapan. BRIN yang diharapkan dapat menyinergikan kelembagaan riset dan teknologi yang berujung pada peningkatan kinerja invensi dan inovasi, ternyata sampai hari ini belum menghasilkan apa-apa.
“Harus diakui, integrasi kelembagaan IPTEK yang dimaknai dengan peleburan seluruh lembaga Litbang ke dalam BRIN, menjadi satu lembaga
superbody yang sentralistik, menuai banyak pertentangan. Kalau tidak ingin dikatakan gagal,” kata Mulyanto melalui keterangan pers di Jakarta, Sabtu (11/2/2023).
Baca Juga: Legislator Pertanyakan Hilangnya Nama Habibie dari Lini Masa BRINAlih-alih terjadi proses konsolidasi menyeluruh, hal yang muncul justru kondisi transisional yang berkepanjangan. Baik dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM), organisasi, pendanaan dan anggaran riset, perencanaan program, peralatan dan ruang laboratorium, infrastruktur riset, aset, bahkan kursi dan ruang kerja (
co-working space).
Menurut Mulyanto, hal itu disebabkan karena sejak awal proses pembentukan kelembagaan BRIN bertele-tele, menuai kontroversi, penuh risiko, menimbulkan banyak korban, dan inkonstitusional.
Maka itu, Mulyanto mendorong Presiden Joko Widodo dan Ketua Dewan Pengarah BRIN untuk bertindak cepat. Hal ini disebabkan proses penggabungan lembaga riset tersebut mulai menelan korban yang tidak sedikit. Bahkan, jika masalah itu terus dibiarkan bisa membuat kegiatan riset nasional kacau.
Baca Juga: Legislator Tegaskan Kepala BRIN Tak Bisa Ujug-ujug Diganti“Belum lama ini kita dengan kisah tragis ratusan tenaga terampil dari kapal Baruna Jaya yang baru saja bersandar usai misi pelayaran, langsung di-PHK. Begitu juga para ahli yang tengah mengembangkan vaksin Covid-19 di LBM Eijkman diberhentikan dan laboratoriumnya dipindah paksa. Hari ini, laboratorium LAPAN di Pasuruan, Jawa Timur ditutup, sehingga bisa menuai protes NASA,” ujar Mulyanto.
Dia mengatakan, jika kejadian itu terus berlangsung, lama-lama Indonesia kekuarangan peneliti dan periset. Padahal, peneliti dan periset sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, dia mendesak Jokowi untuk meninjau ulang kelembagaan BRIN yang sentralistik seperti saat ini.
“Mau sampai kapan pemerintah membiarkan peristiwa ini terus terjadi?” pungkas Mulyanto.
(jqf)