LANGIT7.ID, Jakarta - Trainer Griya Parenting Indonesia, Bunda Ani Christina, menilai, indikasi kenakalan santri di pondok pesantren bisa dipicu oleh masalah kesehatan mental.
Menurut Bunda Ani, minimnya kesadaran tentang kesadaran kesehatan mental santri secara jangka panjang bisa memicu perlaku menyimpang dan gangguan psikologis. Hal itu bisa menjadi masalah panjang. Deteksi dini dan penanganan masalah itu sejak dini perlu dilakukan untuk mencegah potensi yang lebih besar.
“Ada curhatan dari pengasuh pesantren, santri zaman sekarang sangat susah diatur. Nakalnya minta ampun. Sangat jauh berbeda dengan kenakalan di masa-masa saya mondok dulu!’,” ujar Bunda Ani dalam webinar yang digelar Griya Parenting Indonesia, dikutip Rabu (15/2/2023).
Baca Juga: Kabar Gembira, Ustadz Adi Hidayat Bangun Pesantren di Serang BantenMenurut Bunda Ani, selain dari pergeseran nilai-nilai, memang ada dinamika kejiwaan yang perlu diperhatikan dari fenomena ini. Ini sangat berbahaya karena minim kesadaran tentang kesehatan mental santri secara jangka panjang.
Kemunculan perilaku menyimpang dan gangguan psikologis itu adalah masalah panjang yang harus diperhatikan. Ada banyak contoh penyimpangan perilaku dari santri, misalnya penyimpangan kelompok.
“Penyimpanan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan secara berkelompok dengan melakukan tindakan menyimpang dari norma yang berlaku, misalnya penganiayaan senior ke junior dan perkelahian antargeng atau antarkelompok,” ungkap Bunda Ani.
Baca Juga: Santri Ndalan Nusantara, Pesantren yang Tampung Anak Jalanan hingga PremanAkan tetapi, hal yang harus diperhatikan adalah pesantren bukan pemicu penyimpangan perilaku maupun gangguan psikologis. Pesantren menjadi tempat munculnya penyimpangan perilaku maupun gangguan psikologis, akibat akumulasi penyebab yang dibawa dari masa sebelumnya.
“Sikap dan kepribadian dia itu dibentuk dari sebelum dia masuk ke pesantren, sehingga bertemu dengan dunia yang sangat dinamis. Ketika berbagai macam orang berkumpul, muncul masalah-masalah perilaku ini,” ucap Bunda Ani.
Deteksi DIni Penyimpangan Perilaku dan Gangguan PsikologisPerilaku yang nampak menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental. Seperti rendah motivasi, mudah cemas, mudah marah, rendah diri, dan putus. Ini adalah tanda sederhanya.
Baca Juga: Trensains Ajarkan Islam dan Sains dalam Satu Tarikan Nafas“Saya pilih lima saja, tapi sebenarnya banyak. Tapi untuk musyrif-musyrifah, lima tanda ini cukup untuk membuat kita bergetar hati kita, ‘ini ada sesuatu pada santri saya’. Kalau kita tidak tangani, akan menjadi agresifitas,” tutur Bunda Ani.
Deteksi dini penyimpangan perilaku dan gangguan psikologis dilakukan dengan memetakan sebab-sebab pemicu. Deteksi dini juga dilakukan pada masa orientasi atau masa pengenalan santri. Ada beberapa hal perlu diperhatikan di antaranya;
Faktor hereditas intelegensi, gangguan fisik atau medis, latar belakang keluarga, kecenderungan kepribadian, riwayat pergaulan, dan riwayat peristiwa traumatik. Instrumen orientasi santri ada tiga, tes psikologi, angket deteksi diri, dan angket pendukung.
Baca Juga: Pesantren Sains Pertama di Indonesia Lahirkan Saintis Jujur dan QuraniAda juga deteksi dini di sepanjang proses belajar. Hal ini bisa dilakukan dalam peta pelanggaran Aturan, peta pergaulan teman, dan peta perkembangan kepribadian. Kebutuhan memahami santri akan membutuhkan keterampilan observasi dan wawancara.
“Ini bagian kedisiplinan wajib tau peta-peta itu,” kata Bunda Ani.
Deteksi dini adalah media untuk menemukan secara dini adanya potensi masalah agar lebih mudah dilakukan penanganan selanjutnya.
(jqf)