LANGIT7.ID, Jakarta - Dai kondang sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tata-cara mendidik anak agar tumbuh menjadi shalih dan shalihah. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab ayah dan ibu.
Orang tua harus berkolaborasi mendidik anak agar tumbuh menjadi hamba Allah Ta’ala yang shalih dan shalihah. Mendidik anak merupakan perintah Al-Qur’an yang termaktub dalam surah At-Tahrim ayat 6.
Baca Juga: Tips Agar Keluarga Tetap Kokoh di Era Industri 4.0Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala secara khusus memanggil orang-orang beriman agar tidak egois dalam menjalankan ketaatan. Orang beriman diperintahkan menjaga diri mereka dari api neraka dan melindungi semua keluarganya.
“Sama seperti peduli pada diri sendiri, maka pedulilah kepada keluarga kita. Ketika anda tidak memperhatikan mereka, maka anda telah tega meninggalkan ketika mereka terancam dengan neraka. Maka sayangi diri anda dan keluarga anda seperti anda menyayangi diri anda sendiri,” kata UAH melalui kanal youtube Adi Hidayat Official, Rabu (25/8/2021).
Baca Juga: Jangan Childfree, Keturunan Bukti Keharmonisan KeluargaRasulullah SAW bersabda, “
sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR Ibnu Hibban).
UAH lalu menyampaikan empat cara mendidik anak agar menjadi shalih dan shalihah, antara lain:1. Mendidik dengan Al-Qur’an![Begini Cara Memiliki Keturunan Shalih dan Shalihah, Mau?]()
Pendidikan terbaik adalah mengenalkan anak-anak pada Al-Qur’an. Ini merupakan cara para orang salaf, ulama, dan para tokoh-tokoh besar terdahulu dalam mendidik anak mereka. Mereka menghadirkan tarbiyah Al-Qur’an di dalam rumah. Rumah mereka selalu semarak dengan Al-Qur’an.
"Kalau bisa berjamaah bersama-sama, menghafal bersama-sama, hadirkan keceriaan di keluarga, sehingga terasa nyaman dan nikmat dalam menjalaninya," kata UAH.
2. Mengajarkan Shalat Sedari Dini![Begini Cara Memiliki Keturunan Shalih dan Shalihah, Mau?]()
Mengajari anak shalat sejak dini merupakan syarat penting dalam pendidikan karakter. Shalat tak hanya menjadi tiang agama, namun melatih anak untuk disiplin, sabar, dan beriman kepada Allah Ta’ala. Di sisi lain, jika anak tidak diajari shalat yang benar sejak kecil, maka akan terbawa hingga dewasa.
“Ajarkan shalat yang benar dari sejak kecil. Supaya dewasa nanti shalatnya benar. Kalau pada saat kecil terlalu banyak toleran pada yang salah, maka dewasanya pun akan shalat dengan cara yang salah. Mulai dari bacaan yang keliru, wudhu terburu-buru, seakan tidak ada makna dalam wudhu. Tanamkan dasar-dasar ibadah,” kata UAH.
3. Tanamkan Ahlak Karimah![Begini Cara Memiliki Keturunan Shalih dan Shalihah, Mau?]()
Menanamkan akhlak sejak dini merupakan syarat mutlak agar anak tumbuh menjadi anak shalat. orang tua bisa memulai dari hal-hal kecil, seperti adab-adab makan, adab tidur, adab mandi, dan semua adab-adab yang berkaitan dengan aktivitas di rumah.
Misalnya ada makan. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR Bukhari Muslim)
4. Mencontoh Keluarga Imran![Begini Cara Memiliki Keturunan Shalih dan Shalihah, Mau?]()
Mendidikan anak shaleh juga mencontoh keluarga Imran. Kisah keluarga Imran mendidik anak termaktub dalam surah Ali-Imran ayat 35-37. Dalam ayat itu diterangkan pendidikan sejak ibu mengandung, hingga anak dewasa.
Surah Ali-Imran ayat 35-37. Istri Imran, Hanah, saat masih mengandung bernazar akan menyiapkan anaknya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Maka ia pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar dianugerahi anak yang shaleh. Ini cara pertama. Cara ini juga tertulis dalam Surah Al-A’raf ayat 189. Termasuk dalam hal ini memberikan nama yang baik kepada anak.
Saat Maryam binti Imran lahir, Imran dan Hannah langsung mencarikan orang shalih sebagai pembimbing. Keduanya sepakat untuk membawa Maryam ke Nabi Zakaria. Mencarikan guru yang pintar dan shalih adalah pesan dari Al-Qur’an.
Baca Juga: Childfree Produk Feminisme, Konsep Gagal Gambarkan Keluarga IdealBanyak guru yang pintar, tapi tidak memiliki keshalihan, sehingga tidak bisa membimbing spiritual anak. Selain guru yang pintar dan shalih, Al-Qur’an memerintahkan untuk mencarikan anak tempat yang baik. Dalam konteks Al-Qur’an disebutkan mihrab. Mihrab artinya tempat khusus untuk mendekatkan seseorang kepada Allah.
Saat dua poin di atas terpenuhi, maka janji Allah dalam surah Ali-Imran ayat 37 akan terwujud. Allah SWT berfirman:
"
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, ‘Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
Baca Juga: Lakukan Hal Ini Jika Mendapati Waktu Maghrib di PerjalananAnak tak hanya menjadi hamba yang dekat kepada Allah, namun Dia mencukupkan semua kebutuhan dunianya. Terlihat setiap kali Zakaria berkunjung ke mihrab Maryam membawakan kebutuhan sehari-hari. Semua kebutuhan itu sudah tersedia, dan bahkan lebih baik. "Ini dari Allah." kata Maryam.
"Allah akan terima doa anda, dan selanjutnya Allah yang akan memberikan perhatian kepada anak anda. Ibu bapak, merawat di rumah, tapi siapa yang memperhatikan di sekolah? Kadang-kadang anda capek, lelah menyusui, tapi tiba-tiba apa yang anda telah kerjakan hilang dalam sekejap karena pengaruh lingkungan. Maka siapa yang bisa menjaga dia saat bergaul, saat mencari makanan?" ucap UAH.
(asf)