LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Dr. Ahmad Kholili Hasib, membagikan pengalaman saat berkunjung ke
Masjid Mudzaffar Syah, salah satu masjid tertua di Thailand.
Ada kurang lebih empat ribu masjid di Thailand yang sebagian besar terletak di Thailand Selatan. Wilayah Thailand Selatan memang dihuni mayoritas muslim yang tersebar di empat provinsi yakni Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun.
Menariknya, terdapat dia macam masjid di setiap provinsi ada masjid jami’ yakni masjid raya. Selama 20 tahun terakhir, kerajaan Thailand memberi perhatian lebih terhadap perawatan empat masjid di masing-masing provinsi.
Baca Juga: 4 Manfaat Salat, Rem dari Maksiat dan Picu Kesembuhan“Salah satu masjid yang paling bersejarah adalah Masjid Mudzaffar Syah atau masjid Kersik. Nama masjid itu muncul karena terletak di daerah bernama Kersik,” kata Kholil di akun facebook-nya, dikutip Jumat (10/3/2023).
Kholili mengunjungi masjid tua tersebut pada 29 Januari 2023. Menurut Syekh Muhammad Adnan, seorang ulama Pattani, masjid ini masih terpelihara arsitekturnya seperti awal dibangun.
"Dulu masjid ini sempat kosong tak digunakan. Berkat usaha para tokoh, masjid ini direnovasi dan digunakan", kata Syekh Muhammad Adnan saat menemani Kholili berkunjung ke masjid tersebut.
Baca Juga: Jangan Cuma Bergantung pada Allah, Ikhtiar Lebih DidulukanLetak masjid ini di pusat Provinsi Pattani. Masjid itu diapit dua jalan raya yang tidak terlalu besar. Terdapat sumur dan tempat wudu di depan masjid yang juga masih asli. Sumur ini rupanya masih digunakan dan dilengkapi timba dan tali.
Masjid ini dibangun oleh Sultan Ismail Shah. Seorang sultan pertama di kesultanan Melayu Pattani pada 1514. Pendirian masjid ini atas petunjuk Syekh Shofiyuddin al Abbasi, salah satu ulama terkemuka di Thailand. Ia mengusulkan kepada sultan pertama Pattani itu mendirikan masjid dekat istana.
Masjid ini terbangun dari bahan batu bata. Lantai, halaman, tempat wudu dan sumur juga dibangun dari batu bata. Batu bata yang digunakan merupakan batu bata berukuran besar. Sekilas dari bentuknya mirip batu bata zaman Majapahit. Sebagaimana bisa kita jumpai di bekas kotaraja Majapahit di Trowulan Jawa Timur.
Baca Juga: Mahfud MD: Boleh Ceramah Politik di Masjid Asal InspiratifKetika Kholil sampai di Masjid Kersik, waktu sudah menjelang asar. Beberapa menit kemudian dikumandangkan azan. Jamaah salat di masjid ini tidak banyak, meliputi satu baris shaf yang bisa diisi lima orang. Kondisi ini terjadi karena masjidnya memang berukuran kecil.
“Syekh Muhammad Adnan menjadi Imam,” ujar Kholili.
Masjid merupakan salah satu unsur penopang peradaban Islam. Menurut Syekh Adnan, kemungkinan dulu istana sultan itu di depan masjid ini. Beliau menunjuk ke arah timur dan Kholili lalu mendatangi tempat yang konon adalah istana yang menjadi taman masjid.
Baca Juga: UAH Bantah Salah Kaprah Pernyataan Tidak Salat yang Penting Baik“Beberapa pohon kecil dan bunga ditanam di situ. Beberapa lantai sekitar tanah dari batu bata. Jangan-jangan ini bekas lantai istana. Pikir saya dalam hati. Peradaban di Pattani kemudian mundur setelah kesultanan mengalami kekalahan perang dengan kerajaan Siam,” ungkap Kholil.
Menurut cerita warga Pattani, perang ini sangat dahsyat. Sampai-sampai Syekh Abdus Shomad al Falimbani terpanggil ikut berperang. Datang dari Makkah kemudian ke Palembang, kemudian datang ke Pattani, negeri tempat dulu beliau belajar agama.
Syekh Abdus Shomad syahid bersama ratusan pasukan Pattani dan dimakamkan di daerah Chana, perbatasan Songkhla dan Pattani. Menurut cerita, kepala dan badan beliau terpisah. Makam yang di Chana berisi badan tanpa kepala.
Baca Juga: Masjid Raya Syekh Zayed Solo Siapkan 4.000 Takjil Selama Ramadhan 1444 H“Di sinilah pertahanan terakhir Pattani. Setelah istana dan masjid direbut. Masjid itu kini dihidupkan kembali dan sekolah-sekolah Islam juga mulai tumbuh subur, bahkan sudah mulai maju,” ujar Kholili menceritakan.
(jqf)