LANGIT7.ID, Jakarta - Fenomena
resesi seks sudah menjadi momok menakutkan bagi sejumlah negara maju, terutama yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk rendah. Resesi seks dapat menyebabkan penurunan jumlah kelahiran dan berdampak pada pertumbuhan penduduk, bahkan mempengaruhi perekonomian nasional.
Resesi seks merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan tingkat aktivitas
seksual yang dialami oleh masyarakat dalam jangka waktu yang signifikan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika Serikat, Dr. Leonard Sax, pada 2016.
"Sebutan resesi itu untuk menggambarkan kondisi yang mengalami perlambatan atau penurunan. Jadi, resesi seks adalah lambatnya pertumbuhan jumlah penduduk, disebabkan lambatnya atau menurunnya angka pernikahan di satu negara, juga menurunkan ketertarikan masyarakat melakukan hubungan seksual," kata Ustaz Iwan Januari dalam tausiah daring di Cinta Qur’an TV, Senin (6/3/2023).
Baca Juga: Penyebab Resesi Seks: Agama Dipisahkan dari Kehidupan SosialBeberapa negara yang mengalami fenomena ini seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi penurunan tingkat kelahiran. Di antaranya pemberian insentif keuangan bagi pasangan yang ingin memiliki
anak, meningkatkan akses terhadap layanan perawatan anak, dan meningkatkan akses terhadap fasilitas penitipan anak.
Menurut Ustaz Iwan, resesi seks menampilkan benang merah ajaran Islam terkait pernikahan dan anjuran memiliki banyak anak. Dalam pandangan Islam, keluarga dan keturunan memiliki peran penting dalam membangun masyarkat yang sehat dan beradab.
Islam sangat menghargai nilai-nilai keluarga dan keturunan. Anak dianggap sebagai anugerah dari Allah dan menjadi tanggungjawab orang tua untuk memberikan pendidikan serta perawatan yang baik.
Baca Juga: Angka Kelahiran di Indonesia Stabil, Jokowi Pastikan Tak Ada Resesi Seks"Di sini kita menemukan satu benang merah betapa luar biasanya agama islam. Bahwa agama kita ini justru mendorong pernikahan, bukan sekadar penyaluran kebutuhan biologis, atau sekadar punya anak," ujar Ustaz Iwan.
Terdapat pula konsep bahwa keturunan adalah investasi masa depan. Islam memandang keturunan sebagai sumber rezeki, dukungan, dan kebahagiaan di masa tua.
Bahkan, Rasulullah sangat senang dengan jumlah umatnya yang banyak di akhirat kelak. "Banyak sekali nilai-nilai positif yang diberikan dan didapatkan umat manusia ketika mereka mempertahankan pernikahan," tutur Ustaz Iwan.
Baca Juga: Resesi Seks Terjadi di Jepang dan Korsel Akibat Pengabaian Agama(gar)