LANGIT7.ID - , Jakarta - Pendiri Sirah Community Indonesia (SCI),
Ustadz Asep Sobari,
Umar bin Khattab memberlakukan jizyah (pajak) bagi nonmuslim. Tapi, besaran pajak tersebut sangat kecil. Paling tinggi Rp16 juta per tahun. Itu pun ada syarat-syarat
wajib pajak.“Bagi umat Islam sudah ada pungutan wajib yakni zakat. Bagi
nonmuslim dikenakan jizyah. Secara mendasar, tidak ada bedanya antara nonmuslim dan umat Islam dalam hal pungutan atau kewajiban mereka terhadap negara Islam. Umat Islam yang muzakki mengeluarkan zakat,” kata Ustadz Asep dalam webinar di Sirah TV, dikutip Ahad (12/3/2023).
Baca juga: Zakat Bisa Jadi Pengurang Setoran PajakJizyah adalah harta yang dipungut dari ahl ad-dzimmah (nonmuslim yang tinggal di wilayah Islam) dan dibayarkan kepada
negara Islam pada waktu yang ditetapkan selama memenuhi syarat-syarat kewajibannya dan tidak ada yang membatalkannya. (Abdul Karim Zaidan, Ahkam adz-Dzimmiyah)
Syarat wajib jizyah bagi nonmuslim yakni laki-laki, baligh, dan mampu. Jadi, tidak semua nonmuslim wajib bayar
jizyah, misal orang jompo, cacat, anak-anak, dan perempuan. Pembayaran jizyah dilakukan satu kali dalam satu tahun.
Umar bin Khattab tidak menyamaratakan besaran pajak di setiap daerah dan setiap orang. Semua dihitung secara rinci untuk menciptakan keadilan. Lebih dari itu, dia tidak ingin memberatkan masyarakatnya.
Umar bin Khattab membedakan rata-rata besaran jizyah berdasarkan daerah: Syam (4 dinar, 2 mud makanan, 2 qisth minyak), Mesir (4 dinar, 2 irdab makanan), Yaman (1 dinar) per orang). Ini kondisi setiap daerah itu tidak sama.
Baca juga: Pajak dalam Islam, Samakah dengan Zakat?“Tidak sama tingkat kesuburannya, komoditasnya, pendapatan masyarakatnya, itu beda-beda. Maka rata-ratanya pun beda-beda,” kata Ustadz Asep.
Umar juga membedakan besaran jizyah berdasarkan penghasilan pembayar antara kaya, menengah, dan rendah. Orang kaya 48 dirham per orang, menengah 24 dirham per orang, dan rendah 12 dirham per orang.
“Ini rata-rata. Artinya, orang kaya banget sekalipun, cuma Rp16 juta per tahun. Sangat murah. Yang berpenghasilan rendah cuma Rp4 juta per orang. Itu pun laki-laki, sudah baligh, dan mampu. Intinya, tidak memberatkan,” tutur Ustadz Asep.
(est)