LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmi Zarkasyi, mengingatkan, anak merupakan jembatan menuju surga. Anak juga menjadi elemen penting dalam sebuah peradaban. Atas dasar itu, ia tak sepakat dengan konsep
childfree yang lahir dari feminisme.
Prof Hamid tidak mempermasalahkan jika orang yang memutuskan
childfree adalah nonmuslim. Namun akan menjadi masalah jika childfree dianut oleh seorang muslim. Ia menyebut Islam menempatkan pernikahan dan mendidik anak sebagai ibadah yang menjadikan seseorang masuk surga.
Baca Juga: Begini Cara Memiliki Keturunan Shalih dan Shalihah, Mau?"Apa arti pernikahan? Kalau pernikahan hanya pelampiasan nafsu, itu bukan tujuan pernikahan sebagai seorang muslimah atau muslim. Dalam Islam, tujuan pernikahan adalah untuk menjaga kehormatan diri. Jika seorang menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya," kata Prof Hamid dalam webinar Ketahanan Keluarga untuk Tingkatkan Ketahanan Negara melalui aplikasi zoom, Kamis malam (26/8/2021).
Pernikahan adalah sunnah Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I dan Abu Dawud).
“Mendidik anak memang sulit, tetap jika anda berhasil mendidik anak, pahalanya sangat besar di sisi Allah. Ini ajaran Islam. Jadi, jangan berfikir, anak ini menyusahkan,” ucap Prof. Hamid.
Baca Juga: Childfree Produk Feminisme, Konsep Gagal Gambarkan Keluarga IdealProf Hamid menegaskan, anak merupakan kendaraan seseorang untuk masuk surga. Banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan anak shalih. Misalnya hadits tentang orang calon penghuni neraka, namun tiba-tiba dosanya diampuni masuk surga. Ternyata orang itu memiliki anak shalih yang sellau mendoakan.
“Di sinilah pentingnya seorang anak. Dan disitulah pentingnya sebuah keluarga yang yang betul mendidik anak, sehingga menjadi baik, dan anak berbuat shaleh. Amal shaleh anaknya itulah yang akan mengirim pahala kepada kita. Kok bisa-bisanya tidak mau punya anak?” ucap Prof Hamid.
Hal paling menarik adalah keluarga orang beriman akan dikumpulkan oleh Allah Ta’ala di dalam surga kelak. Ini salah satu keutamaan bagi seseorang yang mampu mendidik keturunan menjadi shalih-shalihah. Mereka akan masuk surga sekeluarga. Dalam surah At-Tur ayat 21 disebutkan:
Baca Juga: Jangan Childfree, Keturunan Bukti Keharmonisan Keluarga“
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS At-Tur: 21)
Childfree Membunuh BangsaMenurut Prof Hamid, keturunan merupakan faktor penting dalam menjaga demografi. Sebuah negara tidak bisa berdiri tegak tanpa dihuni oleh manusia-manusia muda. Sebuah bangsa akan hancur jika dihuni oleh orang tua yang berpikiran
childfree.
“Kalau semua orang berpikiran
childfree, bangsa ini akan mati. Peradaban atau kebudayaan adalah sebuah pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai, norma-norma, lembaga, pola pikir, yang diikuti oleh generasi ke generasi. Sebuah bangsa sebenarnya adalah kumpulan dari individu, individu itu diikat di sebuah institusi kecil bernama keluarga,” ucap Prof Hamid.
Baca Juga: Punya Anak Bahagiakan Rasulullah, Childfree Salahi Tujuan PernikahanDia menjelaskan, negara besar bergantung pada keluarga yang ada dalam sebuah bangsa. Baik-buruknya sebuah bangsa tergantung baik-buruknya individu. Baik-buruknya individu tergantung baik-buruknya keluarga.
“Yang namanya pandangan hidup itu adalah sebuah keyakinan. Pandangan hidup itu akumulasi keyakinan selama hidup, dan itu yang membentuk pikiran kemudian menjadi bagian atau asas terpenting dari perilaku seseorang,” ucap Prof Hamid.
Baca Juga:
Insists: Childfree Produk Generasi Pendek Akal
Childfree Trending Topik, Bagaimana Pandangan Islam?(asf)