LANGIT7.ID - , Jakarta -
Lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei elektabilitas partai politik di Kantor
LSI Denny JA, Jakarta Timur, Jumat (17/3/2023). Survei tersebut digelar pada periode 4-15 Januari 2023 di 34 provinsi seluruh Indonesia dengan menggunakan metode multistage random sampling.
Hasilnya menunjukkan pada Pemilu 2024,
partai berbasis Islam berpotensi mengalami penurunan dukungan terbesar dalam sejarah pemilu bebas di Indonesia.
Baca juga: Rektor Paramadina Kritik Parpol yang Tak Percaya pada Lembaga SurveiPartai berbasis Islam hanya berhasil meraih dukungan sebesar 17,6 persen, sementara partai terbuka/nasionalis berhasil meraih dukungan 61 persen.
Total dukungan partai berbasis Islam diprediksi akan menjadi yang terkecil dalam sejarah partai Islam mengikuti pemilu demokratis sejak 1955-2019. Tidak ada satu pun partai berbasis Islam yang masuk kategori papan atas dengan elektabilitas di atas 10 persen.
Partai papan tengah ada PKB (8,0%) dan PKS (4,9%), sedangkan di kategori papan bawah ada PPP (2,1%) dan PAN (1,9%). Kategori nol koma, ada PBB (0,3%), Partai Ummat (0,3%), dan Partai Gelora (0,1%).
Peneliti LSI Denny JA, Ade Mulyana, mengungkapkan, ada tiga alasan suara partai berbasis Islam semakin menurun atau mengecil.
Pertama, adanya depolitisasi Islam pada era orde baru selama 20 tahun (1978-1998). Selain itu, pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) juga ikut andil.
Baca juga: Survei SMRC: Elektabilitas Jokowi Hanya 15,5 Persen Jika Maju Pilpres“Pesona partai Islam menyusut drastis dari 43 persen masa awal, kini terus merosot di bawah 40 persen, bahkan berpotensi di bawah 25 persen,” kata Ade.
Kedua, tidak adanya capres yang berlatas belakang santri kuat. Padahal, Ade menilai, capres berlatar santri kuat menarik partai Islam yang kuat pula.
“Sejak Pilpres pilihan langsung 2004, tidak ada capres yang kuat berlatar santri. Bahkan, Amien Rais pada 2004, tersisih di putara pertama,” tutur Ade.
Ketiga, tidak adanya inovasi yang segar dari partai berbasis Islam yang dapat menambah dukungan dan pesona sejak reformasi. Hal serupa juga disebut terjadi pada partai terbuka/nasionalis.
“Partai terbuka/nasionalis mengalami hal sama, tapi mereka memiliki capres yang kuat untuk mengangkat partai,” ungkap Ade.
Baca juga: LSI Denny JA: 4 King Maker Dilema Soal Capres dan Cawapres(est)