LANGIT7.ID, Jakarta - Ada dua tingkatan manusia dalam menjalankan
ibadah puasa. Pertama, individu yang menjalankan puasa sebagai kewajiba, kemudian kedua, individu yang menjalankan puasa agar terhindar dari hukuman. Biasanya, puasa ini dilakukan oleh anak-anak yang sedang belajar berpuasa.
Berdasarkan tingkatan itu, manfaat puasa bagi setiap individu akan berbeda-beda sesuai tingkatannya. Menurut Al Qur'an, tingkatan tertinggi adalah menjadi individu yang bertakwa. Psikolog Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Nurul Hartini SPsi MKes Psikolog menuturkan bahwa puasa Ramadhan memiliki manfaat mengendalikan emosi individu dan secara sosial. Hal itu karena puasa adalah bulan pelatihan bagi seluruh umat muslim.
Pada bulan Ramadhan, ada situasi kebersamaan (
social support) yang akan membuat individu mampu mengelola emosinya. Selain itu, puasa juga memiliki dampak psikologis secara komunal.
Baca Juga: Ramadhan di Afghanistan: Keluarga Muslim Bertahan Hanya dengan Roti dan Teh“Ketika kita menjalankan ibadah puasa sunah sebelum bulan Ramadhan, itu serba sendiri. Akan tetapi, pada bulan Ramadhan ini. semua umat Islam berpuasa. Artinya, ada situasi bareng-bareng untuk meningkatkan keimanan,” katanya.
“Jadi, suasananya saling mengingatkan. Ketika kita lupa minum atau marah saat puasa, akan ada pengingat dari saudara dan teman-teman sekitar,” ujar dosen pengampu mata kuliah kesehatan mental itu.
Situasi kebersamaan tersebut, sambungnya, akan memberikan dampak positif dalam pengembangan kepribadian dan proses berpikir seseorang. Mulai dari bagaimana mengelola emosi sampai cara berperilaku dengan baik. Semua hal positif akan dilatih ketika menjalankan puasa.
Baca Juga: Ibu Hamil Tetap Boleh Berpuasa Asalkan Penuhi Syarat Ini“Bagi umat muslim, setiap kebaikan dan setiap hal positif yang dilakukan di bulan puasa akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan yang membuat kognisi, emosi, dan perilaku seseorang dibentuk jadi orang yang bertakwa,” tutupnya
(jqf)