LANGIT7.ID-, Jakarta- - Allah sumber
rezeki dan kehidupan. Itu merupakan keyakinan yang dipegang teguh umat muslim, bahwa Allah sebagai sumber segala rezeki dan kehidupan, tidak akan pernah kehabisan karunia-Nya.
Meskipun keadaan sulit, keyakinan ini memberikan rasa aman dan ketenangan bagi setiap Muslim yang menghadapi tantangan hidup.
Rezeki sudah diatur oleh Allah dan sudah ditentukan. Manusia hanya perlu ikhtiar dan terus berdoa. Namun, tetap ketentuan rezeki sudah ada yang mengatur. Rasulullah SAW bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“
Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)
Ibnul Qayyim meminta umat Islam untuk tidak menyibukkan pikiran dengan rezeki yang sudah dijamin, melainkan untuk fokus pada memikirkan apa pun yang diperintahkan Allah. Ia juga mengingatkan, rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, sehingga selama masih tersisa ajal, maka rezeki pasti akan datang.
"Jika Allah -dengan hikmah-Nya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pati -dengan rahmat-Nya- membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu." kata Ibnu Qayyim.
Baca juga:
Allah Selalu Beri Petunjuk Kembali ke Jalan Benar, Jangan Taubat SambelKH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, usaha untuk mencari rezeki merupakan kewajiban setiap orang. Tetapi, menjaga kekhawatiran persoalan rezeki yang akan datang itu harus ditinggalkan. Manusia sebenarnya tidak perlu khawatir dengan rezeki, karena sudah diatur oleh Allah.
"Kalian tidak usah khawatir masalah rezeki, karena Allah tidak akan bangkrut. Lihat! Allah itu setelah menciptakan langit dan bumi, Dia memberi makan hewan-hewan, termasuk dinosaurus, unta, dan gajah," kata Gus Baha dalam tausianya yang diunggah di media sosial, Senin (8/5/2023).
Maknanya, Allah memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk menyediakan rezeki bagi semua makhluk-Nya, baik yang telah ada sejak dulu maupun yang ada saat ini.
Contohnya, jika Allah mampu memberi makan pada dinosaurus dan hewan-hewan besar yang membutuhkan banyak makanan, tentu saja memberi makan pada manusia yang hanya membutuhkan satu piring makanan saja tidak menjadi masalah bagi-Nya.
"Kalau begitu, manusia kalah tawakkal sama seekor gajah, sebab seekor gajah tahu kapan waktu istirahat dan kapan mencari makan. Lah, manusia?" ujar Gus Baha.
(ori)