Kerap muncul pertanyaan mengenai mana yang seharusnya didahulukan antara
menikah atau membahagiakan ibu. Topik ini menjadi perbincangan menarik yang menyoroti peran keluarga dan tanggung jawab terhadap orang tua.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya), menjelaskan, membahagiakan orang tua tidak mesti harus menunda menikah. Dia mencontohkan, anak yang tidak bermaksiat secara tidak langsung sudah membahagikan orang tuanya.
"Jika Anda bermaksiat, ibu Anda tidak akan bahagia. Pahami makna ini, wahai anak muda yang baik. Anda merindukan mengabdi kepada orang tua," ujar Buya Yahya dalam tausiahnya, Senin (15/5/2023).
Baca juga:
Ulama Palestina Jelaskan Penyebab Zionis Israel Bombardir GazaMenurut Buya Yahya, membahagiakan orang dengan amal sholeh merupakan suatu kewajiban. Pernikahan juga dapat menjadi sarana untuk lebih maksimal dalam membahagiakan ibu. Orang tua sudah tentu sangat bahagia jika melihat anaknya menikah.
"Pernikahan Anda sendiri dapat menjadi kegembiraan bagi ibunda. Anda memiliki kawan dalam mengabdi kepada ibunda yang lebih maksimal," kata Buya Yahya menegaskan.
Di sisi lain, seorang laki-laki yang hendak menikah juga harus mempertimbangkan wanita yang hendak dinikahi. Istri shalihah bukan hanya kebahagiaan untuk suami, tapi juga untuk orang tua.
"Menikahlah. Kekhawatiran Anda bukanlah kekhawatiran dalam menikah, tetapi kekhawatiran orang-orang seperti Anda muncul karena kebiasaan cara menikah yang salah,” ucap Buya Yahya.
Menikah bukanlah suatu kewajiban yang terpaksa, melainkan sebuah pilihan yang harus dipertimbangkan dengan baik. "Pilihlah wanita yang shalihah, kemudian setelah itu menikah. Pernikahan yang benar adalah Anda membangun cinta di atas pernikahan," ujar Buya Yahya.
Selain itu, da menyoroti tradisi dalam masyarakat yang menganggap pernikahan harus menghabiskan banyak biaya dalam pesta berfoya-foya. Pernikahan sejati tidak perlu ditandai dengan acara resepsi yang mewah.
"Nikah itu yang enak ya, anak muda. Nikah itu bahagia, saling mengerti, saling memaafkan, tidak menyiksa, tidak saling menuntut, nikah itu memberi," paparnya.
(ori)