LANGIT7.ID-, Surabaya- - Seorang
muslimah beberapa hari ini viral di media sosial. Sosok wanita berhijab ini bernama Siti Aisyah. Ia menjadi sorotan netizen karena kebiasaannya berbagi kepada orang lain.
Siti Aisyah adalah pengusaha asal Surabaya yang berdomisili di Jakarta. Ia memiliki putra dan dua orang putri. Putri pertamanya, Intan Fauzia, dan yang kedua Atina Maulia, pendiri Vanilla Hijab, salah satu brand lokal yang hits.
Muslimah ini gemar
wakaf dan sedekah. Bahkan, nilai wakafnya mencapai miliaran rupiah. Salah satu aset yang dia wakafkan adalah sebuah hotel untuk dijadikan sekolah. Masya Allah.
"Hotelnya diwakafkan juga ustaz. Sudah, mangkanya saya bilang, saya ini belum apa-apanya dibandingkan dengan ibu saya. Sekarang jadi sekolah Khadijah plus, ibu Khofifah (Gubernur Jawa Timur) yang nerima," ujar Aisyah dalam tayangan
YouTube Cinta Quran TV, dikutip Senin (15/5/2023).
Baca juga:
Perjuangan Wanita Palestina Membela Masjid Al-AqsaPemilik resto Pecel Pincuk Surabaya punya prinsip, dengan bersedekah dan rajin wakaf akan membuat hidup semakin bahagia. "Saya meyakini suatu teori kehidupan ini," ucapnya. "Tapi saya tekankan, semakin kamu berbagi kamu semakin bahagia," tutur Aisyah.
Restoran Pecel Pincuk di bilangan Jemursari ini sekarang sudah diwakafkan. Bangunan itu sekarang dimanfaatkan untuk pesantren mahasiswa, untuk mencetak para dai muda, serta dijadikan kampus entrepreneur, guna membekali para dai muda, untuk meluruskan niat dakwah. Hal ini dibenarkan Ketua Dai Muda Indonesia Jawa Timur (Jatim), Ahmad Fatoni.
Wanita ini menegaskan, semua harus dilakukan atas dasar rasa ikhlas dan ketulusan hati. Sehingga, kebaikan pada nantinya juga akan selalu menghampiri.
Aisyah juga mengaku tak punya alasan khusus mengapa sering mewakafkan hartanya yang mencapai miliaran rupiah. Ia meyakini, itu semua sudah jalan Sang Pencipta. "Yang menggerakkan hati itu Allah," imbuhnya.
Teladan dari Orang TuaAisyah mengaku, kebiasaan bersedekah dan berwakaf didapat dari ajaran dan contoh kedua orang tuanya. "Tapi saya belum ada apa-apanya dibanding orang tua saya kalau masalah sedekah," kata Aisyah.
Di antaranya, lanjut Aisyah, orang tuanya selalu menghajikan guru mengaji yang belum berhaji setiap tahun, sampai mewakafkah tanah dan harta.
"Tanah di mana-mana, panggil…kasih. Anak-anaknya nggak ada yang dikasih (tanah). Anak harus berjuang, kata orang tua saya," bebernya.
Ia menegaskan, harta yang didapatnya itu merupakan titipan Allah untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
"Itu tugas kita. Allah menitipkan harta itu kan bukan buat beli kapal pesiar, tas Hermes (harga Rp1 miliar) walau bisa," ungkap Aisyah.
Baca juga:
Cara Membuat Hidup Berkualitas Sesuai Tuntunan Rasulullah SAWDia pun sekarang menularkan kebiasaan mulia ini kepada anak-anaknya. Hal itu terbukti, sang anak sempat meminta dirinya memberikan harta kepada seorang ustaz. "Ma, kejar itu ustaz, yuk kita kasih apa yang beliau ini..," kata Aisyah.
Dia pun mengaku tak pernah merasa kehilangan harta meski kerap bersedekah dengan jumlah yang besar. Ia justru mendapatkan kebahagiaan karena selalu bisa berbagi segitu.
"Itu menurut saya masih sangat kecil. Jadi rasa bahagia itu yang tidak ternilai dengan miliaran tadi, yang didatangkan oleh Allah," kata Aisyah.
"Setiap kita berbagi, bahagia itu selalu hadir," sambung dia.
Misalnya, ketika mewakafkan sebuah restoran yang nilainya puluhan miliar, dia mengakui hartanya senilai miliaran rupiah hilang, namun Aisyah merasa hartanya tidak pernah habis.
"Kan sesuai janji Allah. Berbagi 1 diganti 10. Ada yang lebih dalam lagi Al Baqarah, 1 diganti 700 kali. Kenapa harus takut? Kenapa harus pelit di jalan Allah?," terang Aisyah.
Wanita SederhanaPada tayangan
YouTube Cinta Quran TV, host menyindir penampilan muslimah ini. Dia rajin menghadiri pengajian, duduknya di bawah. Namun tidak menyangka bahwa sosok yang sederhana ini mempunyai hati yang luar biasa.
Daripada untuk belanja barang
branded, dia memilih membelanjakan hartanya di jalan Allah. Aisyah mengumpamakan, jika harus memilih uang Rp1 miliar untuk membeli tas Hermes, maka justru akan menggunakan uang itu untuk membangun masjid.
"Saya tidak punya tas branded, saya tidak punya. Sama sekali sekali tidak punya. Saya ingin dapat branded Allah saja, doakan," ucap Aisyah.
Ia kemudian menyinggung soal hotel yang diwakafkan untuk dijadikan sekolah. Siti Aisyah menceritakan, hotel yang dimaksud itu merupakan milik ibunya di Surabaya.
Tak Pentingkan DuniawiAisyah meyakini suatu teori kehidupan. Menurutnya, dengan bersedekah dan rajin wakaf akan membuat hidup semakin bahagia pula.
"Tapi saya tekankan, semakin kamu berbagi kamu semakin bahagia," tuturnya. Semua harus dilakukan atas dasar rasa ikhlas dan ketulusan hati. Sehingga kebaikan pada nantinya juga akan selalu menghampiri.
Alasan yang menarik perhatian diungkap oleh Aisyah. Dia mengaku, motif utamanya mewakafkan hotel dan restorannya tersebut adalah rasa bosan memiliki banyak uang. "Saya bosan ustaz, banyak duit. Hahaha," kelakarnya.
"Dunia itu pasti akan kejar kita kata Allah. Itu adalah teori yang harus dipelajari, bagaimana agar bisa dikejar dunia. Di manapun saya berada, saya pegang apa, itu akan jadi duit," tandas Aisyah.
Pernah Gagal Menikah Siti Aisyah mengaku pernah gagal dengan pernikahan pertamanya. Namun kegagalan itu dijadikannya sebagai introspeksi diri dan bangkit.
Menurutnya, kegagalan rumah tangganya itu karena ia tidak menjalani nasihat ibunya tentang kejujuran. “Ibu saya mendidik kejujuran diatas segala-galanya, itu terbukti di saya, rumah tangga pertama saya berantakan,” akunya.
Setelah tiga tahun kemudian ia menikah lagi dan mengaku mendapatkan hidayah setelah dipanggil oleh ayahnya.
“Ayah saya yang menekan saya, sini kamu, ini ayat
Waman Yattaqillaha, Barang siapa bersungguh-sungguh akan diberi jalan keluar, diberi rezeki dari banyak penjuru. Tapi ada lanjutannya barang siapa kufur laknat Allah amat pedih, dengar itu remnya pakem,” urainya.
(ori)