LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang sukses dalam urusan perdagangan. Sebagai pedagang, Nabi kerap kali dipercaya dan disukai banyak orang sehingga bisnisnya berkembang pesat dan mengalahkan kompetitornya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis mengatakan, sebagai suri tauladan, sudah seharusnya bagi pebisnis muslim mengikuti apa yang dilakukan Nabi, terutama dalam bisnis. Selain mendapatkan keuntungan dunia, dengan menjalankan sunnah Nabi untuk urusan muamalah juga menjadikan manfaatnya bisa didapatkan sebagai bekal akhirat.
Inilah beberapa hal yang dilakukan Nabi dan bisa diterapkan oleh pebisnis muslim untuk meraih kesuksesan, di antaranya yakni:TerpercayaCholil mengatakan, ada dua hal yang dalam urusan bisnis perlu diperhatikan, yakni modal sosial dan modal uang, atau yang biasa disebut sebagai social capital dan financial capital.
"
Social capital inilah yang berada di atas
financial capital. Ini yang dinamakan sebagai kepercayaan, seperti yang dicontohkan Nabi hingga ia disebut sebagai Al-Amin atau orang yang dapat dipercaya," ujarnya di Webinar Muhammad Sebagai Pedagang, Ahad (29/8/2021).
Dalam praktik bisnis saat ini, kolaborasi akan terwujud jika masing-masing pihak mampu untuk saling percaya. Menurutnya, ketika rasa saling percaya sudah terbentuk, maka akan mudah dalam hal interaksi bisnis selanjutnya.
EtikaSelain jujur, pelaku bisnis juga perlu santun dalam urusan dagang, kaitannya dengan bisnis. Selain keuntungan yang menjadi tujuan utama, pelaku bisnis juga harus bisa memberikan pelayanan yang baik kepada konsumennya.
"Jika sudah menjual produk dan barang yang sama dengan para kompetitor bisnis, lalu yang harus menjadi pembeda adalah etika. Bahkan orang rela beli barang lebih mahal karena etika dan pelayanan yang diterimanya lebih bagus. Nabi juga melakukan hal itu, yang biasa kita sebut sebagai akhlak," ungkapnya.
Selain perlu memahami konsep muamalah dalam syariat Islam, pebisnis juga harus mengerti dan mempraktikkan kepada pelanggan untuk memberikan pelayanan yang maksimal dan baik kepada mereka.
"Oleh karena itu kita perlu memastikan mendapatkan harta kekayaan dengan cara yang baik pula. Tapi jangan sampai jatuh cinta kepada harta, kita perlu mengingat kembali pada tujuan awal, dan cinta hanya kepada Allah," katanya.
SilaturahmiIslam mengajarkan kepada ummatnya untuk tidak memutus tali silaturahmi. Sebab, salah satu keutamaannya yakni melapangkan rezeki.
"Semakin banyak silaturahim, maka semakin banyak rezekinya. Itulah janji Allah. Semakin banyak relasi atau jaringan bisnis maka semakin mudah pula berkembangnya suatu bisnis. Jejaring bisnis inilah yang termasuk ke dalam kemanfaatan sebuah silaturahim," ucapnya.
IkhlasKetika sudah mampu mendapatkan harta kekayaan yang cukup, Cholil mengatakan, perlunya bagi ummat Islam untuk menggunakan hartanya sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah.
"Khoirunnas anfauhum linnas, yakni sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab No 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5787).
"Di tengah orang berjibaku untuk mendapatkan harta kekayaan menggunakan berbagai macam cara, bahkan terkadang melakukan hal yang dilarang agama. Kita perlu tunjukkan dengan niat yang lurus pun ummat Islam masih bisa mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah," katanya.
Cholil berharap, melalui beberapa hal tersebut, Allah akan tingkatkan derajat ummatnya sehingga dimudahkan dalam setiap urusan, termasuk perkembangan bisnis. Maka ketika berbisnis, pastikan tidak menghalangi urusan ibadah dengan Yang Maha Pemberi Rezeki.
(asf)