LANGIT7.ID-, Jakarta- - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Prof Muhadjir Effendy, mendorong kreasi kebudayaan umat Islam melalui peran Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dia menjelaskan, manusia memiliki daya cipya sebagai bagian inti dari budaya. Tidak mungkin ada budaya tanpa adanya daya cipta dari manusia. Sedangkan, penentuan budaya ditentukan oleh pikiran (ide) dan jagat raya (media).
“Manusia saja yang memiliki kemampuan berdaya cipta. Jadi, tidak mungkin ada budaya kalau tidak ada manusia. Hanya manusia yang memiliki daya cipta, sehingga ada budaya,” ujarnya saat menjadi Keynote Speaker di Kongres Budaya Umat Islam Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (26/7/2023).
Sementara, binatang atau hewan, hanya memiliki naluri alami. Sehingga, tidak bisa menciptakan perubahan.
“Begitu saja dari dulu hingga saat ini. Kita tidak pernah dengar ada sarang lebih dari plastik kan,” ujarnya.
Muhadjir menyampaikan tentang konsep budaya yang dikembangkan oleh Peter Ludwig Berger yang disebut dialektika budaya.
“Dialektika budaya Peter Berger itu menyatakan bahwa semua yang ada di jagat raya itu sebenarnya ciptaan yang maha pencipta, sedangkan yang mendapatkan tetesan cahaya penciptaan itu hanya manusia, selain itu tidak bisa menjadi seorang creator, ” ungkapnya.
Sementara, budaya Islam Indonesia muncul karena adanya ekspresi, ide, media, dalam budaya Islam Indonesia. Jadi, keislaman yang terekpresikan dalam budaya kolektif oleh individu-individu yang muncul secara bersamaan.
“Eksternalisasi, internalisasi, obyektifikasi, ini semua ekspresi budaya. Bahkan sejarah celana mungkin enggak ada,” ucapnya.
Maka itu, dia menegaskan peran MUI sebagai penjaga dan pelayan umat diharapkan bisa mendorong umat untuk berkreasi dalam hal kebudayaan.
Muhadjir menyarankan, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan hal itu adalah memunculkan sisi pemikiran dan teladan dari para tokoh-tokoh Islam yang diterima banyak pihak.

(ori)