LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya, KH Jeje Zainuddin, menerangkan, para ulama sejak dahulu sudah menjadi budaya sebagai alat dakwah. Tak terkecuali di Indonesia. Dakwah di Nusantara bisa berkembang pesat salah satunya karena ulama memanfaatkan budaya lokal sebagai instrumen dakwah.
"Pada intinya dakwah adalah gerakan perubahan kepada kebaikan dalam segala aspek kehidupan yang dimulai dari gerakan akidah sebagai asas utama membangun peradaban manusia," kata KH Jeje dalam Kongres Budaya Umat Islam Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Rabu (26/7/2023).
Budaya menghasilkan hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat manusia. Tentu hal tersebut sangat dipengaruhi oleh apa yang diimani dan dipedomani masyarakat itu sendiri. Jika asas yang dipedomani manusia adalah akidah Islam, maka yang dihasilkan sebagai budaya dinisbatkan kepada pelakunya (muslim) atau apa yang diimani (Islam).
"Sehingga menjadi absah untuk dikatakan budaya muslim atau budaya Islam," ujar KH Jeje.
Baca juga:
Menko PMK Dorong Kreasi Kebudayaan Umat Islam Lewat Peran MUISebagai pewaris para nabi, para ulama adalah pemimpin spiritual dan terkadang jadi pemimpin formal masyarakat muslim. Mereka berberan sebagai interpretator atau sumber-sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah.
Kemudian mereka mentransformasikan sumber ajaran Islam itu ke dalam masyarakat menjadi berbagai macam unsur kebudayaan. Mulai dari sistem keyakinan, sistem ritual, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem hukum, adat berpakaian, bahasa, hingga kesenian.
Dakwah tidak selamanya menciptakan kebudayaan yang benar-benar baru. Banyak budaya lama yang baik dan sejalan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam tetap dipertahankan keberlangsungannya, bahkan dilegitimasi sebagai bagian dari ajaran Islam.
Sebagian dari budaya yang eksis di masyarakat juga dimodifikasi dan diberi norma baru. Itu agar sejalan dengan prinsip ajaran Islam. Kemudian itu dijadikan sebagai bagian dari instrumen dalam menyampaikan dakwah Islam.
"Hanya sebagian budaya masyarakat yang benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam yang ditolak para ulama untuk dijadikan instrumen dakwah," ungkap KH Jeje.
Ulama dan Dakwah Kebudayaan di Indonesia
Sejarah perkembangan dakwah Islam di Indonesia sangat kaya dengan fakta terkait ulama berhasil mentransformasikan norma-norma ajaran Islam yang agung ke dalam semua unsur budaya masyarakat.
Nilai-nilai ajaran Islam yang didakwahkan ulama dari masa ke masa mampu menjadi filter penyaring budaya lokal yang telah ada, melegitimasi dan melestarikan budaya lama yang sesuai dengan Islam, memodifikasi budaya lama ke dalam bentuk yang Islami, mengnspirasi dan memolopori lahirnya budaya-budaya Islami yang baru dalam berbagai bentuknya, dan menjadi alat yang memproteksi masyarakat dari serbuan budaya asing yang bertentangan dengan budaya Islam.
"Dakwah kebudayaan di Indonesia telah memiliki contoh dan modelnya di masa lalu, karena itu sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan sesuai dengan tuntunan perubahan zaman," ungkap KH Jeje.
Keterbukaan zaman global telah menyebabkan serbuan berbagai adat budaya asing yang tidak sejalan dengan Islam. Keterbukaan itu tidak lagi bisa dibendung memasuki seluruh sudut kehidupan masyarakat muslim di dunia, termasuk di Indonesia.
Maka, menjadi keniscayaan, terutama LSBPI MUI, melakukan usaha peningkatan kesadaran dan literasi di kalangan para ulama dan budayawan. Mereka harus sadar tentang pentingnya dakwah kebudayaan di era sekarang ini.
"Agar nilai-nilai ajaran Islam terus mampu meningspirasi dan memandu lahirnya kreativitas budaya yang positif, serta dapat menjaga masyarakat khususnya generasi muda, dari arus budaya asing yang destruktif," ungkap Jeje.

(ori)