LANGIT7.ID-, Jakarta- - Penting bagi setiap orang tua memahami dan mengenali batasan dalam mengungkapkan kemarahan kepada anak. Meskipun menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari, marah yang tidak terkendali dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan dan kesejahteraan mental anak-anak.
Pendakwah asal Yogyakarta, Arif Nursalim (Salim A Fillah), menjelaskan, marah bukan berarti tidak boleh sama sekali. Orang tua harus menyiapkan banyak hal dalam mendidik anak. Tidak boleh asal-asalan.
Maka itu, menurut Salim A Fillah, ada dua hal penting yang mesti dipahami orang tua dalam mendidik anak. Di antaranya:
1. Beri Penjelasan Sebelum Memarahi Anak
Marah bukan berarti tidak boleh sama sekali. Tapi, marah harus ditempatkan secara proporsional. Anak. Hal lebih mendasar adalah bahaya marah jika tidak ada penjelasan sebelumnya. Anak harus tahu alasan dimarahi, sehingga tidak menyimpan dendam kepada orang tua, tapi menyadari kesalahannya.
"Jadi kalau kita mau marah atas apa yang dilakukan oleh anak, cek dulu 'ini tadi sudah di-briefing belum bahwa ini nggak baik', kalau belum tunda dulu," kata Salim A Fillah saat menyampaikan tausiah secara daring di Pro-You Channel, dikutip Senin (31/7/2023).
Menurut Salim A FIllah, menjadi orang tua harus memiliki kesabaran ekstra. Orang tua harus sering memberi penjelasan kepada anak atas segala hal. Itu tidak lepas dari kecendrungan anak yang sedang mempelajari lingkungan sekitar. Itu yang menumbuhkan rasa penasaran.
"Makanya jadi orang tua itu memang harus sering-sering briefing, termasuk ketika anak kita lepas mau main sama temennya, di-briefing apa yang benar dan apa yang nggak, apa yang boleh dan apa yang enggak. Yang baik-baik dari teman boleh ditiru, apa yang tidak baik dari teman enggak boleh ditiru," ujar Salim A Fillah.
Kebiasaan briefing anak akan membantu mengenalkan kepada mereka hal baik dan hal buruk. Proses belajar ini perlu mendapat dukungan kuat dari ibu. Jika orang tua langsung memarahi saat anak berbuat salah, yang terekam justru orang tuanya galak dan lain sebagainya. Jika anak dimarahi setelah ada breafing, setidaknya anak tahu alasan kemarahan orang tua tersebut.
"Kalau dia melakukan kesalahan, kemudian dikoreksi dalam keadaan marah sekalipun, dia akan menyadari 'kenapa aku dimarahi, karena tadi aku melanggar apa yang diberikan oleh ayah atau Bunda'," ungkap Salim A FIllah.
2. Bersikap Adil kepada Anak
Orang tua harus bersikap kepada anak. Orang tua boleh memarahi anak dengan marah yang wajar jika melakukan kesalahan. Tapi, orang tua tidak boleh hanya bisa marah saja. Orang tua harus bisa berbuat adil kepada anak.
"Adil itu artinya kalau anak melakukan hal yang baik perlu diapresiasi dong, jangan cuma kalau dia melakukan hal yang buruk, kita marah-marah aja. Kalau dia melakukan hal yang baik, dia diapresiasi," ujar Salim A Fillah.
Salim A Fillah mencontohkan sebuah kasus dalam rumah tangga. Setelah makan, anak tanpa disuruh langsung membawa piring kotor ke wastafel. Tapi, belum sampai piring jatuh dan pecah. Biasanya, orang tua akan menyoroti piring pecah tersebut.
Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diberikan kepada anak dalam kondisi tersebut. Orang tua bisa mengapresiasi inisiatif sang anak membawa piring kotor ke wastafel. Lalu, piring pecah bisa dijadikan alat untuk melatih anak tanggungjawab.
Anak tidak perlu dimarahi. Orang tua cukup memberi penjelasan tentang hal tersebut. Lalu, orang tua meminta anak membersihkan pecahan piring tersebut. Tentu, dalam hal ini orang tua mengambil peran lebih banyak. Anak hanya disuruh ikut membantu sebagai bentuk tanggungjawab. Itu akan lebih dibanding memarahi anak.
"Ini akan melatih tanggung jawab, sekaligus dia mendapatkan rasa, 'Oh ini hal baik, ini diapresiasi, ini harus aku lakukan selanjutnya, aku lakukan lagi dan lagi, karena ternyata ayah suka, aku melakukan ini'. Ini contoh demikian," ujar Salim A Fillah.

(ori)