LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menilai Islam merupakan peradaban masa depan. Dia mencatat tiga data menarik dari survei Pew Research Center, sebuah lembaga riset Amerika Serikat pada 2015.
Lembaga riset itu menyampaikan survei tentang profil dan jumlah pemeluk agama di dunia serta proyeksi pemeluk agama dunia 2050. Apabila dikaitkan dengan umat Islam, ada tiga data yang menarik.
Pertama, dilihat dari jumlah pemeluk, Islam merupakan agama terbesar kedua setelah Nasrani (Kristen dan Katolik). Islam menjadi agama yang berkembang pesat, khususnya di negara-negara Barat, terutama di Benua Eropa dan Amerika.
Kedua, kualitas dan peran umat Islam dalam berbagai bidang ekonomi, politik dan ilmu pengetahuan juga menunjukkan peningkatan. Ketiga, sekarang ini jumlah Muslim terbesar di dunia ada di Indonesia. Sekitar 10% muslim dunia bermukin di Nusantara.
Akan tetapi, kata Mu'ti, 2050 negeri berpenduduk Muslim terbesar adalah India. Survei Pew Reaech Center tersebut menarik. Dalam dua dasa warsa terakhir paska 9/11, Islamofobia, rasisme dan anti-semitisme di negara-negara barat cenderung meningkat.
"Umat Islam mengalami dan menjadi sasaran berbagai tindakan kekerasan. Sejak BJP, Partai Hindu fundamentalis, berkuasa di India, umat Islam mengalami tekanan yang luar biasa. Dengan berbagai argumen politik, uamt Islam di India mendapatkan kesulitan, intimidasi, dan kekejaman yang memilukan," kata Mu'ti saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Rabu (23/8/2023).
Umat Islam terus berkembang dan bertahan di tengah berbagai tekanan dan kekerasan. Itu karena Islam adalah agama yang sempurna. Islam berisi ajaran yang mempersatukan umat manusia. Islam adalah agama yng terbaik. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang terbaik di antara Rasul-rasul yang lain.
Mu'ti menjelaskan, banyak kaum terpelajar dari kalangan ilmuwan, filosofi, dan akademis masuk Islam setelah mengkaji secara mendalam dan kritis serta membandingkan Al-Qur’an dengan kitab suci lainnya. Kedua, masyarakat modern di banyak negara maju, dan telah mencapai kesejahteraan material tidak menemukan kebahagiaan.
"Dalam banyak hal, kesejahteraan material justru menjadikan manusia semakin terasing dan mengalami reduksi kemanusiaan. Manusia menemukan kebahagiaan dalam kehidupan spiritual. Demikian halnya dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang ditopang oleh rasionalitas tanpa iman," ungkap Mu'ti.
Islam sebagai agama wasathiyah, menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, dalam Tafsir Al-Maraghi mengandung ajaran yang seimbang antara kehidupan material dan spiritual serta memberikan tuntutan bagaimana mencapai keduanya.
Meu'ti menjelaskan, sesuai prediksi Pew Research Center, jumlah pemeluk Islam akan terus meningkat. Di belahan bumi manapun, ada komunitas Muslim. Hal ini sesuai dengan hakikat dan tujuan Islam sebagai agama dunia bagi seluruh umat manusia.
Islam akan menjadi agama peradaban manusia di masa depan. Itu terjadi ketika umat Islam mengamalkan ajaran Islam sebagai agama wasathiyah. Umat Islam berupaya meningkatkan kualitas diri dan masyarakatnya dengan keimanan yang teguh, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni budaya yang luhur.
"Umat Islam akan maju jika mereka menghindari sikap-sikap ekstrem dan berlebihan dengan hanya berfokus pada hal-hal materi dan meninggalkan hal-hal rohani. Atau sebaliknya, mementingkan hal-hal rohani dengan mengesampingkan hal-hal yang bersifat materi," tutur Mu'ti.
Islam akan menjadi agama yang berkembang, ketika umat Islam bersikap terbuka, adil, dan tidak ekstrim dalam menyikapi berbagai permasalahan serta tidak eksklusif dalam bersosialisasi.
"Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia yang bertugas bagaimana menghadirkan Islam wasatiyah kepada seluruh umat manusia dengan Islam wasatiyah," ungkap Mu'ti.
(ori)