LANGIT7.ID-, Jakarta- - Wilayah laut dalam adalah lapisan terendah di lautan, dengan sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang menembusnya. Meskipun minim cahaya, kehidupan berlimpah di laut dalam. Al-Qur'an menggambarkan keadaan orang kafir seperti kegelapan di laut dalam yang luas.
Seberapa dalam lautan itu? Jauh lebih jauh dari yang Anda pikirkan. Faktanya, Oseanografi memberi tahu bahwa pada kedalaman lautan yang ekstrem di Planet Bumi tidak ada cahaya. Wilayah laut dalam adalah lapisan terendah di lautan. Lapisan ini berada di bawah Termoklin dan di atas dasar laut, pada kedalaman 1.800 m atau lebih. Sedikit atau tidak ada cahaya yang menembus bagian laut ini.
Selain itu, sebagian besar organisme yang hidup di sana bergantung pada bahan organik yang jatuh yang diproduksi di Zona Fotik. Atas alasan itu, para ilmuwan pernah berasumsi bahwa kehidupan akan jarang ditemukan di laut dalam. Namun, hampir semua penelitian menunjukkan bahwa sebaliknya, kehidupan justru berlimpah di laut dalam.
Baca juga:
Bersihkan Hati, Bergantunglah hanya Kepada Allah"Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun." (QS An-Nur: 40)
Al-Qur'an membahas masalah laut dengan berbagai cara (bentuk). Syekh Abdul Aziz az-Zuhairi menulis, Sighat bahar (bentuk tunggal) disebutkan sebanyak 29 kali, Sighat bahrani (dua lautan) satu kali, Sighat bahrain (dua lautan) empat kali, Sighat bihar (jamak) dua kali. Sedangkan kata al-fulk (perahu) disebutkan sebanyak 23 kali.
Surah An-Nur ayat 40 memang ditempatkan pada konteks sebagai analogi orang-orang kafir sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya. Selain menggambarkan orang-orang kafir berada dalam kegelapan, Allah SWT juga sebelumnya menyematkan kondisi fatamorgana yang ada pada orang-orang kafir pada ayat 39.
Namun setiap ayat Al-Qur'an mempunyai rahasia, termasuk ayat tentang kegelapan lautan di atas. Apa yang dikatakan Al-Qur'an tentang kegelapan yang tumpang tindih di lautan sepertinya mengulangi apa yang dibuktikan oleh dunia sains saat ini.
Mengutip buku Oceans karya Danny Elder dan John Pernetta, kegelapan lautan dan samudera ditemukan di kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak ada cahaya yang ditemukan. Sedangkan di bawah kedalaman seribu meter tidak ada cahaya sama sekali.
Penjelasan Harun Yahya tentang dunia bawah laut juga bisa menegaskan kembali betapa benarnya firman Tuhan tentang tumpukan kerang laut. Pengukuran dengan teknologi terkini berhasil mengungkap antara tiga hingga 30 persen sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut.
Jadi, hampir ketujuh warna yang menyusun spektrum sinar matahari diserap satu per satu saat menembus permukaan laut hingga kedalaman 200 meter, kecuali cahaya biru. Di bawah kedalaman seribu meter tidak ditemukan sinar.
Tak hanya itu, Harun Yahya yang mengutip buku Oseanografi, Pemandangan Bumi juga mencoba menelaah kalimat lain pada ayat di atas. Ketika masih ada ombak lain di atas ombak tersebut. Apa yang disebutkan tersebut juga dibuktikan secara ilmiah oleh penelitian modern saat ini.
Para ilmuwan menemukan adanya gelombang di dasar lautan yang terjadi pada pertemuan antara lapisan air laut dengan kepadatan atau waktu yang berbeda. Gelombang internal ini menutupi wilayah perairan di kedalaman samudera dan lautan. Pada kedalaman ini, air laut mempunyai massa jenis yang lebih tinggi dibandingkan lapisan air di atasnya.
Ajaibnya, gelombang internal ini mempunyai sifat gelombang permukaan. Dia bisa pecah seperti gelombang. Meski tidak bisa dilihat dengan mata manusia, namun keberadaannya bisa dikenali melalui suhu atau perubahan kadar garam di tempat tertentu.
(ori)