Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 10 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Jangan Terlalu Sering Jenguk Anak di Pesantren, Ini Alasannya

Muhajirin Kamis, 02 September 2021 - 07:30 WIB
Jangan Terlalu Sering Jenguk Anak di Pesantren, Ini Alasannya
ilustrasi seorang santri sedang mengaji (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Makassar - Direktris Pesantren Putri Darul Huffadh, Ustadzah Sa’diah Lanre Said, memberikan alasan mengapa orang tua tak boleh sering menjenguk anak mereka di pondok pesantren. Menjenguk anak karena alasan rindu bukan pilihan bijak. Boleh mengobati rasa rindu, tapi hanya sesekali, bukan tiap hari atau tiap pekan.

Menurut dia, persoalan rindu tidak akan pernah selesai. Rindu tidak akan pernah terobati meskipun sudah bertemu. Keseringan menjenguk anak di pondok pesantren hanya menguntungkan orang tua saja. Tidak bagi anak.

“Tapi masalahnya pada anak. Rindu orang tua terpenuhi tapi ingatan anak tentang rumah, tentang orangtua yang sakit justru akan membuatnya hilang semangat belajar dan keinginan pulang akan terus berlanjut,” kata Ustadzah Sa’diah melalui akun facebook-nya, Rabu (1/9/2021).

Hal itu mengakibatkan anak kesusahan konsentrasi dalam belajar hingga tidak bisa fokus menghafal karena terus teringat rumah. Sementara di sisi lain, anak harus menerima konsekuensi dari pengurus karena tidak menghadapkan hafalan dan hukuman jika tidak masuk kelas.

“Ujung dari semua adalah anak berhenti dan pulang selamanya karena tidak bisa menghadapkan hafalan dan belajar akibat gangguan pikiran dari rumah,” ucap Ustadzah Sa’diah.

Berawal dari masalah itu, anak tidak memiliki keinginan mondok jika sering izin pulang ke rumah dengan berbagai alasan. Dari situ, ia akan mengarang cerita untuk membenarkan keinginannya. Misalnya dia mengungkit kekurangan pondok dari sisi ekonomi atau sistem ketegasan di pondok.

Menjadi orangtua berarti menjadi panutan dan teladan. Ketegaran orang tua melepas anak belajar akan terlihat dari cara sang anak menghadapi setiap masalah yang ada di pondok. Masalah bukan hal yang buruk. Itu akan menjadi bagian pembentukan diri anak dalam mengambil sikap, memutuskan, hingga berbuat kebaikan diri dan orang lain.

Jika anak kehabisan uang jajan, maka tak perlu panik. Itu akan membuat anak di masa mendatang belajar untuk selektif terhadap kebutuhan pribadinya. Demikian pula jika ada masalah dengan teman, itu bagian dari belajar hidup di masyarakat luas kelak, yang dimulai dari lingkungan kecil bernama pondok.

“Anak sakit? Jangan takut. Itu akan membuat anak belajar untuk tidak mengabaikan kesehatannya lagi. Anak tidak bisa menghafal? Itu akan menjadi salah satu pintu untuk mengetahui kelemahan dirinya dan mencari solusi serta bertanya pada orang lain, seperti apa yang harus dia lakukan untuk lebih baik. Semua adalah pembelajaran selama orang tua sabar dan tega untuk pembentukan itu,” kata Ustadzah Sa’diah.

Pesantren memberikan pendidikan kepada anak cara hidup di tengah masyarakat mulai dari lingkungan pondok. Orang tua tidak bisa mendampingi anak seumur hidupnya. Sehingga, kebiasaan memanjakan anak meski sudah mondok akan berdampak buruk bagi masa depan anak itu sendiri.

“Dengan kebiasaan memberikan segalanya bagi anak, tidak mau mereka terbentur masalah, lantas siapa yang akan menyelesaikan masalahnya nanti ketika kita tidak ada? Kakaknya? Tetangga? Saudaranya? Sampai kapan itu akan terjadi?” ucap Ustadzah Sa’diah.

Maka, kata dia, selagi masih hidup, orang tua wajib memberikan pendidikan terbaik kepada anak. Bukan hanya dari segi pengetahuan, tapi kemandirian, pembentukan karakter, hingga pendewasaan agar mereka mampu menyelesaikan setiap masalah dengan cara mereka sendiri.

Pondok akan membimbing mereka dengan sistem pendidikan yang terstruktur, bukan dengan cara orang tua. Orang tua harus memberikan porsi kepada anak untuk belajar hidup jika di masa depan nanti. Anak harus memiliki waktu untuk lebih besar dalam bersikap, bertindak lebih cermat, dan memutuskan masalah dengan lebih bijak.

“Suatu saat, ketika Allah mengambil nafas terakhir kita, maka anak sudah siap menghadapi segala kemelut hidup tanpa harus didampingi orang tuanya. Semoga saya, anda dan kita, mampu menjadi orangtua yang bijak, cerdas dan istiqamah dalam mengantar anak-anak kita, menjadi insan lebih baik di masa mendatang,” pungkas Ustadzah Sa’diah.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 10 Juni 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:17
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)