LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ketua Dewan Syuro IKADI, Prof. KH. Achmad Satori Ismail, menjelaskan, dalam UUD 1945 Alinea ke-4 disebutkan tujuan bernegara yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dia menjelaskan, agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Umat Islam bisa berperan dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berahlak mulia.
Ismail menjelaskan, ada lima hal penting agar setiap rakyat Indonesia memiliki upaya dalam bersinergi menggapai cita-cita bernegara:
1. Hanya Allah yang Paling Diagungkan
Setiap bangsa yang ingin membangun masa depan gemilang harus yakin bahwa Allah harus dijadikan dalam dirinya sebagai yang paling diagungkan. Itu karena Allah yang menyebabkan manusia menang.
“Kita harus menyandarkan diri kita kepada Allah dalam segala halnya,” ujar Ismail saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Senin (18/12).
Dia mencontohkan ketika pengikut Thalut mau berperang melawan Jalut, mereka meminta kepada Allah dilimpahkan kesabaran dan dikokohkan pendirian dan langkah. Mereka berkata :
Artinya : Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo'a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 250).
2. Melakukan Tazkiyatun-nafs serta Membersihkan Penampilan Jasmani dan Rohani
Para Nabi adalah makhluk pilihan. Walaupun Allah telah menyempurnakan akal dan anugerah kepada mereka akan tetapi Allah memerintah mereka untuk melakukan pensucian jiwa sebelum menyampaikan dakwah.
Rasulullah SAW diperintah Allah untuk melakukan qiyamullail agar bisa mengemban amanah dakwah. Pensucian jiwa merupakan bekal penting untuk menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan materialisme.
Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku (QS. Thahaa : 42).
Untuk menggapai cita-cita agung, harus dilakukan oelh orang-orang yang memiliki kemauan kuat dan cita-cita tinggi. Beban ini tidak bisa dipikul kecuali oleh orang-orang yang memiliki taazkiyatun-nafs dan cara-cara bertaqarrub kepada Allah.
Untuk menggapai cita-cita berbangsa, umat ini harus membersihkan diri dari berbagai kekotoran akidah, kekotoran akhlak, kekotoran kehidupan dan kotoran lainnya. Benak kita harus bersih dari niat dan fikiran kotor. Mulut kita harus terlepas dari omongan yang tidak ada gunanya, omongan jorok dan kotor.
“Hati kita tidak ada su’udzan dan niat yang jelek. Semua anggota badan kita tidak memiliki tanda-tanda kekufuran dan kekotoran tradisi. kita wajib membersihkan penanmpilan kita. Kita harus tampil sebagai muslim kaffah, penuh kelembutan dan kasih sayang,” ujar Ismail.
3. Menjauhi segala Bentuk Kekufuran dan Kesyirikan
Kesyirikan adalah penyebab turunnya siksa dunia dan akhirat. Jalan setiap muslim adalah jalan lurus yang tiada kesyirikan sedikitpun. Kesyirikan adalah penyebab pokok munculnya krisis moral. Krisis moral adalah penyebab lahirnya semua krisis di dunia. Sedangkan keimanan adalah penyebab turunnya berkah dari langit dan bumi.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. al-A’raf : 96).
Secara individu, kalau ingin bangkit menuju masa depan yang baik harus rasional dan jauh dari kesyirikan. Demikian juga suatu bangsa bila ingin bangkit maka harus menjauhkan semua prinsip kekufuran dan kesyirikan.
“Tayangan media elektronik dan berita-berita di berbagai media cetak harus dijauhkan dari prinsip-prinsip kesyirikan,” ungkap Ismail.
4. Harus Berani Berkorban untuk Agama, Nusa dan Bangsa
Ayat 6 dari surat al-Muddatstsir menyatakan : “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Ayat ini mendorong kita untuk memberikan pengorbanan menuju puncak kebangkitan dan tidak mengajarkan untuk mendapatkan sesuatu tanpa usaha.
Ada tiga unsur utama yang diperlukan untuk membangun umat. Pertama risalah; kedua keyakinan terhadap risalah. Ketiga; orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut.
5. Bersabar
Bersabar di jalan menuju cita-cita mulia bangsa ini, tidaklah bertaburan bunga tapi penuh dengan onak dan duri. Tidak pernah seorang yang memperjuangkan cita-cita bangsa yang besar tanpa tantangan.
“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. al-Hijr : 97 - 99).
“Bangsa Indonesia sangat membutuhkan rakyat yang memegang teguh lima sendi kebangkitan tersebut untuk menuju Indonesia gemilang di masa yang akan datang,” ungkap Ismail.
(ori)