LANGIT7.ID-Jakarta; Ekonom dan mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sjafruddin Prawiranegara mengatakan, terjadinya polusi dan kerusakan di darat di sungai, di laut dan di udara bukanlah karena banyaknya penghuni bumi. Tetapi karena merosotnya akhlak dan moralitas manusia.
"Itu terjadi karena tujuan hidup manusia tidak lagi untuk beribadah dan mengabdi kepada Tuhan, tetapi untuk kepentingan bagaimana mereka bisa mendapatkan kesenangan hidup di dunia ini dengan tenaga dan biaya yang sekecil-kecilnya dan keuntungan yang sebesar-besarnya (serakahnomic) yang dalam ilmu ekonomi disebut dengan motiv ekonomi," ujar pengamat sosial ekonomi dan keagamaan Dr KH Anwar Abbas dalam pernyataannya yang di share kepada langit7.id, selasa(7/10/2025).
Jadi, kata Abbas, motiv ekonomi yang merupakan cermin dari hawa nafsu itulah menurut Sjafruddin yang telah mendorong orang untuk menjadi rakus dan tamak. "Jadi, kalau masalah ekonomi, dikelola hanya berdasarkan motiv ekonomi maka masyarakat yang akan terbentuk menurut Sjafruddin bukanlah masyarakat yang baik dan beradab tapi masyarakat yang biadab karena tidak lagi memperhatikan dan menjunjung tinggi akhlak dan moralitas serta nilai-nilai luhur.
Berbeda halnya jika masalah ekonomi dikelola dengan berdasarkan ajaran agama, menurut Abbas akan mendorong pandangan yang lebih positif bahwa dalam kehidupan ekonomi bukanlah motive ekonomi tapi adalah ketaqwaan terhadap Allah SWT. Refleksi dari ketakwaan ini akan mendorong umat manusia untuk berbuat baik terhadap sesama, dimana dia akan tampil tidak hanya sebagai sosok homo economicus tapi juga sekaligus sebagai homo religius.
Ditegaskan Abbas, jika umat manusia dalam pribadinya ada sosok homo economicus dan homo religius akan dapat mempergunakan alam kebendaan yang dimiliki dan dihadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan dari Tuhannya. "Akhlak dan moralitas seperti itulah kata Sjafruddin yang tidak ada pada orang yang bekerja hanya menurut metode ekonomi semata yang akibatnya menjelma menjadi iblis dalam tubuh manusia yang menghisap darah orang lain dan darah masyarakatnya,"ujarnya.
Oleh karena itu, imbuhnya, jika kita ingin menata kehidupan ekonomi suatu bangsa dan negara kata Sjafruddin adalah suatu kekeliruan bila pemerintah dalam menyelesaikan masalah ekonomi yang dihadapi rakyatnya hanya mempergunakan pendekatan ekonomi dan pasar semata. Sebab, yang namanya pasar dan ekonomi murni itu menurut Sjafruddin tidak punya hati nurani karena dia hanya akan berpihak kepada orang yang kuat saja dan tidak peduli kepada orang yang lemah. "Keadaan pasar yang seperti itu akan sarat dengan pro-kontra dan yang menjadi korban jelas orang orang miskin sebagai pihak yang termarjinalkan dan dimarginalkan.
Karena itu adalah wajar jika mereka yang termarjinalkan dan dimarjinalkan berjuang keras untuk mendapatkan hak-haknya hingga terjadilah gesekan dan tindak kekerasan serta perbuatan-perbuatan tidak terpuji lainnya yang tidak mustahil akan memantik bagi terjadinya kekacauan sosial dan politik yang akan sangat merugikan bangsa dan negara.
"Untuk menghindari hal demikian maka tidak dapat tidak kata Sjafruddin agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebersamaan dan keseimbangan harus terlibat dan dilibatkan dalam mengatur kehidupan ekonomi dan pasar. Tujuannya agar kehidupan ekonomi dan pasar bisa berjalan dengan baik dan lancar dalam bingkai akhlak dan moral yang luhur sehingga kehidupan ekonomi dan pasar diharapkan akan dapat menjadi tempat yang aman, nyaman dan sejuk bagi semua pihak, dan itulah yang kita harapkan," jelas Abbas yang juga Ketua PP Muhammadiyah(*)
(lam)