LANGIT7.ID-, Jakarta- - Puasa dalam Islam memiliki manfaat yang signifikan, salah satunya adalah potensi untuk memperpanjang usia. Menurut penelitian ilmuwan Rusia, Vladimir Nikitin, yang diungkapkan oleh Agus Rahmadi Dkk dalam buku "Hikmah Puasa Perspektif Hadis dan Medis," puasa secara rutin dapat berkontribusi pada memperpanjang usia.
Vladimir Nikitin memulai penelitiannya setelah mengamati kondisi fisik orang Indonesia yang sering melakukan ibadah puasa, namun banyak yang bertubuh gemuk. Untuk menguji hipotesis ini, dia melakukan penelitian pada tikus dengan lima kelompok yang memiliki pola makan berbeda, termasuk kelompok yang dipuasakan dengan pola mirip puasa wajib, puasa sunnah, dan pola makan harian.
Hasilnya menunjukkan, tikus yang berpuasa secara teratur, terutama dengan pola seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Daud, memiliki usia yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan yang makan setiap hari. Vladimir Nikitin menyimpulkan bahwa puasa dapat memperpanjang usia.
Kepala Kelompok Kerja Imunologi Asosiasi Alergi Nasional dan Imunologi Klinis Turki (AID), Profesor Sebnem Kilic Gultekin menyatakan, puasa memberikan manfaat yang baik terhadap kesehatan tubuh. Terutama bagi mereka yang mempelajari diet puasa intermiten, pasti akan lebih paham.
Puasa Ramadhan sama halnya ketika seseorang melakukan diet intermiten. Maka, puasa akan memberikan efek yang sangat baik, seperti memperbaiki sel-sel dalam tubuh. Asalkan, asupan makanan dan cairan tercukupi pada saat berbuka dan sahur
“Ketika tubuh tidak menerima makanan selama 14 jam sampai 16 jam, maka mekanisme pertahanan antioksidan ikut bermain,” kata Gultekin dilansir dari Daily Sabah, Jumat (29/12/2023)
Perbaikan DNA dimulai di sel dan autofagi, yang merupakan cara tubuh membersihkan sel yang rusak untuk mendapatkan sel baru dan lebih sehat. Perbaikan sel-sel dalam tubuh ini bisa terjadi setelah tubuh mengalami puasa yang panjang.
Istirahat yang diberikan pada makanan ini memainkan peran penting dalam penghancuran protein yang salah lipat atau berkerumun, pembersihan organel yang rusak dan penghapusan patogen intraseluler.
"Menahan lapar untuk waktu yang lama mengarah pada peningkatan fungsi otak, dan peningkatan kapasitas belajar dan memori. Tubuh keton, yang terjadi sebagai akibat dari pemecahan sel-sel lemak setelah puasa yang lama, menunda penuaan otak dan tubuh kita dan memainkan peran penting dalam fungsi aktif metabolisme,” ujar dia.
Gultekin menyatakan bahwa lapar untuk waktu yang lama juga menyebabkan perbaikan parsial dalam keluhan pasien Alzheimer dan Parkinson. Situasi ini juga mengurangi risiko obesitas, penyakit reumatologi dan kanker. Telah ditunjukkan bahwa cara nutrisi pada pasien yang menerima kemoterapi merespon pengobatan dengan lebih baik.
"Ritual nutrisi intermiten yang dibawa oleh Ramadhan membawa keremajaan dan kesehatan ke tubuh dengan memperbaiki sel-sel, asalkan cairan tetap terpenuhi pada saat jam-jam dibolehkan makan. Yang terpenting, sistem kekebalan tubuh kita memanfaatkan ini dan melakukan pemeliharaan tahunan tubuh kita,” jelasnya.
(ori)