LANGIT7.ID, Jakarta - Pilihan untuk tidak memiliki anak atau childfree masih marak diperbincangkan. Tidak memiliki keturunan, padahal mampu secara biologis dapat memberi beberapa dampak negatif secara medis. Kebanyakan para wanita yang mengidap tumor dan kanker rahim, adalah mereka yang tidak memiliki anak atau yang memiliki hanya satu orang anak.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Ia mengungkapkan bahwa childfree memiliki sejumlah dampak kesehatan hingga risiko biologis, terutama bagi wanita.
"Seberapa kita mau memenuhi hak kita, tetap perlu diimbangi dengan seberapa dalam kita mempertimbangkan dan memutuskan hak tersebut dengan sudah tahu konsekuensi dan plus-minusnya," kata dr. Hasto, Ahad (5/9/2021).
"Jangan hanya karena kita bebas menentukan, tapi tidak mengetahui resikonya. Banyaklah membaca, karena lebih baik tahu duluan sebelum mengambil keputusan," ujarnya menambahkan.
Dari sisi biologis, dr. Hasto mengatakan kebanyakan para wanita yang mengidap tumor dan kanker rahim, adalah mereka yang tidak memiliki anak atau yang memiliki hanya satu orang anak.
"Mereka yang mengidap tumor rahim, (risiko) lebih cenderung meningkat pada mereka yang nuliparitas (tidak punya anak, atau punya anak satu)," kata dr. Hasto.
Pun dengan tumor dan kanker payudara. dr. Hasto mengatakan, tumor dan kanker payudara cenderung banyak menyerang wanita yang tidak menyusui.
Selain itu, ada juga kista endometriosis, di mana sekitar 30-50 persen wanita yang mengalami endometriosis biasanya juga mengalami gangguan kesuburan atau infertilitas.
Meski endometriosis dapat mengganggu kesuburan, ada beberapa solusi yang mungkin bisa dijalani pasien agar bisa hamil, tergantung pada usia dan tingkat keparahan endometriosisnya.
"Oleh karena itu, jangan anggap kalau tidak punya anak itu bebas dari risiko. Pengetahuan kesehatan reproduksi perlu dibangun, terlebih karena perempuan siklusnya jalan terus; setiap bulan telurnya kecil, membesar, kemudian pecah dan menstruasi," kata dr. Hasto.
"Ketika wanita pernah hamil, siklus itu disetop selama 9 bulan, dan itu ada baiknya--mengistirahatkan rahim dari putaran siklus hormon itu," ujar mantan Bupati Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta tersebut menambahkan.
Lebih lanjut, dr. Hasto mengatakan bahwa penting bagi wanita yang memutuskan childfree untuk memperkaya wawasan terkait dampak dan risiko bagi tubuhnya.
"Seandainya mereka ingin childfree dan tahu resikonya dan kontrol secara baik, seperti misalnya payudara dikontrol secara rutin, rahimnya di-scanning secara periodik dari penyakit-penyakit yang biasanya datang kepada mereka yang tidak hamil, itu berarti baik karena dilakukan dengan rutin," kata dia.
"Hal-hal seperti itu perlu sebagai imbangan pendapat childfree karena terpengaruh oleh emosional, tapi kemudian tidak tahu risiko-risikonya. Itu perlu diingatkan," imbuh pria lulusan Fakultas Kedokteran UGM itu.
Ia juga mengusulkan bagi pasangan yang masih muda, sehat, dan mampu, untuk melakukan adopsi anak. "Usul saya, kalau mereka sehat dan mampu, mungkin bisa adopsi (anak). Karena banyak dari masyarakat yang anaknya banyak tapi tidak mampu (memenuhi kebutuhan). Kalau punya rezeki, silahkan," ujarnya.
sumber: Antara(jqf)