LANGIT7.ID-, Jakarta- - Namanya Wasil Habib Al-Abid (21). Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini tampak bahagia saat menginjakkan kakinya di Tanah Suci.
Kepada petugas, ia mengaku ingin mempraktikkan kemampuan berbahasa Arabnya selama berada di Arab Saudi. "Pasti mau praktik berbahasa Arab. Meskipun di sini terkenal dengan 'amiahnya (bahasa pasaran atau tidak baku)," ujar Wasil di Madinah.
"Saya ingin menerapkan belajar mandiri praktik berbahasa Arab saat bertemu petugas atau saat menawar belanja nanti," sambungnya.
Baca juga:
UKT Batal Naik, Nadiem Minta PTN Rangkul Calon Mahasiswa Baru yang TerdampakMahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini bercerita, ia berangkat mendampingi ibunya. Dengan tergesa dan mendorong dua koper di tangannya, ia berlari mengejar bus beserta rombongan yang telah dulu sampai di paviliun bandara.
"Ibu udah duluan, kebetulan. Tadi tuh terlambat untuk nyari-nyari koper, biasanya posisi koper kan random," terang Wasil sambil menyeka peluh di keringatnya karena cuaca panas hari itu.
Wasil bercerita, perasaannya tak karuan saat memasuki Kota Nabi. Banyak hal yang ia khawatirkan, saat mendampingi ibunya nanti. Sebagai jemaah haji muda, ia merasa bertanggungjawab juga terhadap jemaah yang lebih tua.
"Jadi deg-degan, agak gimana ini sambil dampingin ibu. Terus karena saya juga masih muda, jadi ada tanggung jawab juga untuk memprioritaskan yang lebih tua," ujarnya.
Kondisi cuaca panas di Tanah Suci juga menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan Wasil. Apalagi info yang ia dapat, suhu di Arab Saudi dapat menyentuh angka 40-50 derajat saat puncak haji nanti nanti.
Berbekal informasi dari sosial media, Wasil telah menyiapkan starter pack yang harus dibawa untuk menghadapi cuaca panas yang mendera. "Saya sudah menyiapkan pelembapb sunscreen, cream, masker terus ada payung juga," Wasil mengungkapkannya pada petugas.
Ditanya tentang doa khususnya saat di Tanah Suci, Wasil berharap skripsinya dipermudah. Dapat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), sehingga ia dapat mewujudkan cita-citanya untuk turut mencerdaskan anak bangsa, menjadi guru yang mulia.
(ori)