LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 64 poin, meskipun sebelumnya sempat menguat 8 poin di level Rp15.499,5 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.435,5. Pelemahan ini mencerminkan ketidakpastian global yang masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, meskipun kondisi ekonomi domestik Indonesia terbilang cukup kuat, ketegangan geopolitik dan prospek pertumbuhan ekonomi global yang melambat menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.
Ketidakpastian global ini memberikan risiko tambahan terhadap sektor eksternal Indonesia, terutama dalam konteks neraca transaksi berjalan. Prospek perlambatan ekonomi global dapat meningkatkan risiko pelebaran defisit neraca transaksi berjalan, yang diperparah oleh tren ekspansi defisit fiskal. Di tengah situasi ini, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang cukup konservatif dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Agustus 2024.
Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stabilitas, sebagai upaya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan menekan laju inflasi. BI menargetkan inflasi tahun 2024 berada di kisaran 2,5% plus minus 1%, yang dianggap sebagai level yang aman dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian ini.
Selain itu, BI juga menguatkan operasi moneternya untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah dan meningkatkan masuknya aliran modal asing. Dalam konteks kebijakan makroprudensial, BI tetap mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan pendekatan yang pro-growth. Kebijakan makroprudensial yang longgar terus ditempuh untuk mendorong peningkatan kredit atau pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan rumah tangga.
Di sisi lain, kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk memperkuat keandalan infrastruktur dan struktur industri sistem pembayaran, serta memperluas akseptasi digitalisasi sistem pembayaran di seluruh Indonesia. Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan BI rate, serta menahan suku bunga deposit facility di level 5,5% dan suku bunga lending facility di level 7%, menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga kestabilan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Meskipun Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas, rupiah tetap rentan terhadap pengaruh eksternal. Ketidakpastian global yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik dan prospek pertumbuhan ekonomi global yang masih suram, menjadi katalis bagi volatilitas nilai tukar.
Pada awal bulan ini, laporan penggajian bulanan yang lemah di Amerika Serikat menjadi katalis bagi lonjakan volatilitas di seluruh kelas aset. Para pelaku pasar bersiap menghadapi potensi guncangan lainnya dengan data yang direvisi yang akan dirilis pada hari Rabu. Laporan penggajian pada 2 Agustus memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat mungkin perlu memangkas suku bunga hingga setengah persen poin pada pertemuan kebijakan pertengahan September. Hal ini mendorong kemungkinan tersirat dari langkah tersebut menjadi sekitar 71%, menurut FedWatch Tool dari CME Group.
Selain itu, pidato Ketua Fed Jerome Powell pada hari Jumat di simposium ekonomi Jackson Hole di Kansas City Fed akan diawasi dengan ketat untuk mendapatkan petunjuk tentang kemungkinan besarnya pemotongan suku bunga bulan depan. Para pelaku pasar juga akan mencari sinyal apakah biaya pinjaman kemungkinan akan diturunkan pada setiap pertemuan Fed berikutnya.
Sentimen global lainnya yang juga memberikan tekanan pada rupiah adalah situasi di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken baru saja mengakhiri perjalanan ke Timur Tengah yang bertujuan untuk menengahi perjanjian gencatan senjata di Gaza. Blinken, bersama mediator dari Mesir dan Qatar, telah meningkatkan harapan untuk "proposal penjembatan" AS yang dapat mempersempit kesenjangan antara kedua belah pihak dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 bulan.
Di Asia, para pedagang akan mencermati sesi khusus parlemen Jepang pada hari Jumat, di mana Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda akan bersaksi. Fokus akan tertuju pada nada pidatonya setelah Wakil Gubernur Shinichi Uchida menunjukkan sikap yang lebih dovish awal bulan ini, yang membantu menenangkan pasar.
Dengan semua faktor ini, perdagangan rupiah besok diperkirakan akan tetap fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp15.440 hingga Rp15.550.
(lam)