LANGIT7.ID-, Jakarta- - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengejutkan publik dengan pengumuman dukungannya terhadap 60 calon kepala daerah dalam gelombang ketiga pencalonan Pilkada 2024. Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDI-P, menyampaikan daftar tersebut di kantor pusat partai di Jakarta.
Dari total 60 nama yang diumumkan, terdapat enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, 38 pasangan calon bupati dan wakil bupati, serta 16 pasangan calon walikota dan wakil walikota. Namun, yang menarik perhatian adalah absennya Provinsi DKI Jakarta dari daftar tersebut.
Baca juga:
Anies Baswedan Sambangi Markas PDIP, Spekulasi Pencalonan Gubernur DKI MerebakEnam provinsi yang mendapat dukungan PDI-P untuk kursi gubernur adalah Sulawesi Utara, Banten, Jawa Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kalimantan Utara. Masing-masing provinsi ini memiliki pasangan calon yang telah ditetapkan oleh partai.
Ketidakhadiran Jakarta dalam pengumuman ini mengundang tanda tanya, mengingat sebelumnya tersiar kabar bahwa PDI-P akan mengusung duet Anies Baswedan dan Rano Karno untuk Ibu Kota. Spekulasi ini kini terbantahkan dengan tidak adanya nama Anies maupun Jakarta dalam daftar yang diumumkan.
Pengumuman ini merupakan bagian dari strategi PDI-P menjelang Pilkada serentak 2024. Partai ini telah mengumumkan dukungannya secara bertahap, dengan gelombang ketiga ini menjadi yang terbaru.
Meskipun Jakarta absen, PDI-P tetap menunjukkan kekuatannya di berbagai daerah. Di Sulawesi Utara, partai ini mengusung Steven Kandouw berpasangan dengan Letjen TNI (Purn) Alfred Denny Djoike Tuejeh. Sementara di Banten, Airin Rachmi Diany dipasangkan dengan Ade Sumardi.
Jawa Tengah, basis kuat PDI-P, akan dipertahankan dengan mengusung Andika Perkasa dan Hendra Priadi. Gorontalo akan diperebutkan oleh pasangan Hamzah Isa dan Andurrahman Abubakar Bahmid. Di NTT, partai memilih Yohanis Fransiskus Lema bersama Jane Natalia Suryanto, sedangkan Kalimantan Utara akan diperjuangkan oleh Andi Sulaiman dan Andri Partono.
Pengumuman ini tentu akan mempengaruhi dinamika politik menjelang Pilkada 2024. Sementara itu, nasib pencalonan untuk DKI Jakarta masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
(lam)