LANGIT7.ID-, Jakarta- - Warga Palestina yang terjebak di Gaza utara, lokasi pertempuran sengit antara Israel dan Hamas, tengah berduka atas kehilangan orang-orang tercinta akibat gempuran tak henti-henti. Mereka juga menghadapi krisis pangan dan kesehatan yang kritis. Rumah sakit kehabisan persediaan, sementara tim penyelamat sering kali tak mampu menjangkau korban yang terperangkap di bawah puing-puing bangunan.
Muhammad Abu Halima, penduduk Jabalia berusia 40 tahun, mengungkapkan kepada media, "Jumlah korban tewas sangat tinggi, banyak orang masih terkubur dan hilang di bawah reruntuhan. Selama lebih dari seminggu, kami hidup tanpa harapan, tanpa air, dan tanpa sarana kehidupan yang layak."
Militer Israel mengintensifkan operasi di Jabalia akhir pekan lalu, dengan dalih membidik pejuang Hamas yang diduga berkumpul di sana. Kemudian, mereka mengumumkan telah mengepung wilayah Gaza utara secara efektif dan mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk. Menurut UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, serangan terbaru Israel di Gaza utara telah menimbulkan penderitaan lebih lanjut bagi ratusan ribu warga yang terjebak.
Sebagian besar wilayah Gaza telah hancur akibat serangan balasan Israel atas wilayah tersebut, menyusul serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober tahun lalu yang memicu perang. Sejak operasi di Jabalia dimulai, warga, petugas kesehatan, dan tim tanggap darurat melaporkan bahwa penembakan intensif dan penutupan jalan telah menghambat pengiriman bantuan, memutus pasokan vital ke fasilitas medis.
"Kami berada di bawah pengepungan Israel," ujar Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Jabalia. Rumah sakit hanya memiliki persediaan bahan bakar untuk beberapa hari, yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas. Staf medis "kelelahan dengan sangat sedikit dokter yang tersedia," tambahnya. "Kami menderita akibat blokade makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, bahkan bahan bakar yang seharusnya datang dari selatan ke utara."
Pada hari Sabtu, anggota keluarga menangis saat berkabung dan menghibur satu sama lain di rumah sakit. Jenazah orang-orang yang tewas dalam pertempuran di Jabalia dibungkus dalam kain kafan putih.
Tim penyelamat melaporkan bahwa pergerakan mereka semakin terhambat oleh pertempuran yang menghalangi akses ke gedung-gedung yang terkena serangan, di mana orang-orang terkubur di bawah puing-puing. "Ada puluhan orang hilang di bawah reruntuhan, dan kami sama sekali tidak bisa menjangkau mereka," kata Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza.
Bassal menambahkan bahwa banyak orang telah tewas sejak operasi militer Israel terhadap Jabalia dimulai pada 6 Oktober. Meski mendapat kecaman internasional atas jatuhnya korban sipil, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu membela serangan tersebut, menyatakan bahwa pasukan sedang membidik militan. "Prajurit-prajurit berani kami kini berada di jantung Jabalia, di mana mereka sedang membongkar benteng-benteng Hamas," katanya dalam pernyataan video yang dikeluarkan oleh kantornya.
Hamas pada hari Minggu mengecam operasi Israel sebagai "kampanye militer kriminal." Netanyahu berulang kali berjanji untuk mencapai kemenangan total di Gaza dengan memusnahkan Hamas. Setelah lebih dari setahun perang, kelompok militan Palestina ini diyakini telah sangat melemah akibat tewasnya beberapa pemimpinnya dan ribuan pejuangnya. Namun, Hamas belum sepenuhnya hancur, dan pejuang yang berkumpul kembali di beberapa kantong wilayah memicu serangan baru oleh militer Israel.
Bagi Hashim Abu Youssef Asaliya, penduduk Jabalia berusia 70 tahun, pertempuran terbaru hanya membawa lebih banyak penderitaan. "Hidup kami penuh keputusasaan di Jabalia," katanya. "Sejak perang dimulai, kami telah mengungsi 12 kali. Inilah hidup kami." (alarabiya)
(lam)