LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagian orang menganggap Ibu kota Jakarta sebagai ladang uang karena dianggap mudah mendapatkan pekerjaan. Jika ditolak melamar kerja, membuka usaha bisa menjadi alternatif menjanjikan untuk bisa mendapatkan penghasilan.
Seperti yang dialami Bayu, muslim asal Yogyakarta yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkerja di Jakarta. Bayu berprofesi sebagai pegawai di salah satu toko distro.
Menurutnya, saat itu perputaran uang untuk keluarga dirasanya cukup mudah didapatkan. Apalagi pakaian distro hingga saat ini masih menjadi idola bagi para anak muda.
Namun, berbeda dengan istrinya yang mengaku tidak betah karena satu dan lain hal. Bayu mengisahkan, saat itu sang istri mengajaknya untuk pulang ke kampung halaman di Yogyakarta dan hidup menetap di sana.
Awalnya, Bayu sempat menolak ajakan istrinya. Sebab, ia mulai merasakan mudahnya mengais rupiah di ibu kota ketimbang di kampung halamannya, Yogyakarta.
“Istri stres karena memang rutinitas harian kita di Jakarta kan padat. Itu sekitar tiga tahun kita berdebat. Akhirnya kita putuskan untuk pindah ke kampung halaman, dan waktu itu belum tau kegiatannya mau apa,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.
Baca juga: Bisnis Menjanjikan, Muslim Ini Raih Omzet Rp45 Juta per Panen dari Budi Daya GuramiKetika di Yogyakarta, Bayu mulai terbersit di pikirannya untuk memulai usaha ternak kambing dan domba. Kegiatan itu diakuinya jauh berbeda selama ia berada di Jakarta yang ruang lingkupnya di kelilingi oleh anak muda, sementara saat memutuskan untuk beternak, Bayu harus berhadapan dengan kambing dan dombanya setiap hari.
“Sangat jauh berbeda yang saya rasakan, karena ketika pulang kampung ketemunya hanya ilalang dan belalang. Apalagi harus blusukan di kebun untuk mencari pakan kambing,” ujarnya.
Namun, seiring waktu menjalankan kegiatannya sebagai peternak, Bayu merasakan kebahagiaan tersendiri. Menurutnya level kebahagiaan ketika hidup di desa lebih terasa dibandingkan saat dirinya masih sibuk bekerja di toko distro.
Bayu menuturkan, saat merintis usahanya ia masih terkontaminasi dengan gaya bisnis yang dulu ketika masih bekerja di toko distro. Ia menyebutkan, ambisinya saat merintis peternakan tersebut terlalu besar tanpa memperhitungkan segala sesuatunya dengan matang.
“Jadi saya belajar dari internet, yang penting langsung hajar dan ketika saya posting dagangan di facebook ternyata komentarnya menyakitkan. Ada yang komen menyalahkan kandang, ada yang bilang bisnis saya tidak akan jalan,” ujarnya.
Bayu memang mengakui karena egonya yang terlalu besar saat itu menyebabkan berbagai permasalahan dalam peternakannya. Kala itu, kandang peternakannya ketika baru dibangun memang tidak tepat untuk tempat perawatan hewan ternak.
Akhirnya, Bayu mulai membongkar semua struktur kandangnya yang saat itu masih berusia dua bulan. Dari situ, ia perlahan menurunkan ambisinya dan mulai untuk mendalami dunia peternakan kambing hingga bisa berkembang seperti saat ini.
“Beternak kambing semakin lama saya semakin paham bahwa tidak akan bisa mendapatkan keuntungan instan, tapi perlu melalui beberapa proses tahapan. Untuk itu, saat memulai saya tidak langsung mendapatkan untung. Tapi secara perlahan keuntungan itu bisa didapatkan,” jelasnya.
Baca juga: Mantan Jurnalis Alih Profesi, Kini Sukses Beternak Burung Puyuh Skala RumahanSaat ini, 78 Farm terus mengalami perkembangan yang signifikan, dan untuk penjualan hewan ternaknya Bayu mengaku menggunakan sistem online. Sebab, dengan menggunakan pemasaran online ia bisa menjangkau pembeli lebih banyak.
Setidaknya, selama 4,5 tahun belakangan dia sudah tidak pernah menjual ternaknya di pasar dengan sistem melapak. Bahkan, dengan pemasaran online ia sudah mampu menjual hewan ternaknya hingga Gorontalo.
“Ini jadi jawaban untuk banyak orang yang mempertanyakan ke mana akan menjual hewan ternak. Sekarang dengan kemudahan teknologi apa saja bisa dijual ke mana saja. Asal rajin posting apa adanya,” jelasnya
Kini, 78 Farm telah menjadi tempat edukasi bagi siapa saja yang ingin belajar seputar dunia peternakan kambing dan domba. Bahkan, karena perkembangannya yang terus membaik, di peternakan tersebut juga telah memiliki 13 jenis kambing dan domba.
Bayu mengaku memang sengaja memelihara beragam jenis kambing dan domba. Sebab, banyak yang datang ke tempatnya untuk mendapatkan ilmu dan kebutuhan masing-masing seputar peternakan kambing dan domba.
“Jadi kalau ada yang mau belajar kambing perah kami ada contohnya, berikut juga kalau ada yang mau belajar soal domba pedaging, dan lainnya. Jadi, saya selalu usahakan di kandang ini jenisnya komplit,” jelasnya.
Peternakan Sistem Konvensional78 Farm Yogyakarta ini menerapkan sistem peternakan kuno. Artinya sistem peternakan tersebut tetap mengandalkan proses mengarit untuk mendapatkan pakan ternak.
Menurutnya, Indonesia memiliki tanah yang luas dan subur. Ia merasa tertantang untuk mendapatkan pakan ternak dari hasil lembah pertanian produktif.
“Ngarit ini pun bahkan dilakukan oleh peternak luar negeri, tapi bedanya kita masih manual mereka sudah menggunakan traktor. Harusnya kita bisa punya cita-cita ngaritnya pakai traktor bukan malah anti ngarit,” tegasnya.
Baca juga: Solusi Masa Pandemi, Muslim Ini Sukses Jaga Ketahanan Pangan dari BudikdamberSelain itu, dengan sistem ngarit, Bayu mengungkapkan peternak akan mendapatkan
double income. Dengan menanami lahan tidak produktif yang digunakan sebagai media tanam pakan ternak, selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk tanaman buah, seperti pisang dan pepaya.
Lahan tidak produktif yang digunakan 78 Farm ini pun semuanya merupakan hasil sewa. Di lahan seluas tiga hektar itulah Bayu menanami kebutuhan pakan ternaknya.
“Buat saya pakan natural itu pasti lebih baik dan umur ternaknya lebih lama. Walaupun hewan ternak tidak terlalu gemuk, tapi tetap memiliki kualitas yang baik,” jelasnya.
(zul)