LANGIT7.ID-, Jakarta- - Warga kamp pengungsi Nour Shams di Tepi Barat yang diduduki Israel kini dilanda kekhawatiran tentang masa depan mereka. Hal ini terjadi setelah serangan Israel merusak kantor Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di wilayah tersebut.
Sebanyak 13.000 penduduk kamp yang berlokasi dekat kota Tulkarem di bagian utara sangat bergantung pada bantuan UNRWA. Badan PBB ini mengelola dua sekolah, klinik kesehatan, dan layanan kebersihan di Nour Shams.
Para pengungsi hanya bisa terpaku menyaksikan pekerja membersihkan puing-puing di sekitar kantor yang nyaris hancur total akibat operasi "anti-teror" pada hari Kamis.
Baca juga:
Untuk informasi terbaru mengenai konflik di timur tengah, kunjungi halaman ini."Bagi kami, hanya ada UNRWA atau tidak sama sekali," ungkap Shafiq Ahmad Jad, pemilik toko ponsel di kamp tersebut kepada media.
"Bagi para pengungsi, UNRWA seperti ibu mereka sendiri," kata Hanadi Jabr Abu Taqa, pejabat UNRWA yang bertanggung jawab untuk wilayah Tepi Barat bagian utara. "Bayangkan jika mereka kehilangan ibu mereka."
Kepala UNRWA Philippe Lazzarini menyatakan bahwa pasukan Israel telah "merusak parah" kantor tersebut. Namun, pihak militer dengan tegas membantah tuduhan ini, menyebutkan kerusakan "kemungkinan besar" disebabkan oleh bahan peledak yang dipasang "teroris."
Roland Friedrich, kepala UNRWA di Tepi Barat, mengatakan kantor tersebut harus direlokasi, yang akan membutuhkan "investasi besar". "Dampak psikologisnya tentu sangat menyedihkan," tambahnya setelah berbicara dengan warga pada hari Sabtu.
Israel Berusaha Menghapus Hak Pengungsi PalestinaDari toko ponselnya yang sudah rusak parah, Jad hanya bisa melihat alat berat membersihkan puing-puing dan para teknisi yang sibuk memperbaiki kabel-kabel komunikasi yang hancur.
Menurutnya, kehancuran ini bukan kebetulan. Semua terkait dengan keputusan parlemen Israel yang baru-baru ini mengeluarkan undang-undang untuk melarang segala kegiatan UNRWA di wilayah Israel.
"Kalau UNRWA sampai hilang dari wilayah Palestina, khususnya di Tulkarem, bayangkan apa yang akan terjadi. Jalanan akan penuh sampah, dan orang-orang sakit tidak akan bisa berobat," jelasnya dengan nada prihatin.
"Menghilangkan UNRWA sama saja dengan menghilangkan eksistensi Palestina," tegas Jad.
Mohammed Said Amar, seorang warga berusia 70 tahun lebih, meyakini serangan Israel ke UNRWA memiliki agenda tersembunyi. "Mereka punya tujuan politik, yaitu menghapus hak kami untuk kembali ke tanah leluhur," ungkapnya.
Yang dimaksud Amar adalah hak istimewa yang dimiliki warga Palestina dan keturunannya untuk kembali ke tanah asal mereka. Hak ini berlaku bagi mereka yang terpaksa mengungsi atau diusir saat Israel berdiri pada tahun 1948.
Dengan tegas dia membantah tuduhan Israel bahwa kelompok bersenjata Palestina menggunakan gedung UNRWA. "Bagi kami, gedung UNRWA itu suci. Kalau tentara Israel menghancurkannya, berarti memang dari awal mereka sudah menargetkan tempat ini," tegasnya.
Mereka KhawatirDua hari setelah operasi Israel, internet masih belum diperbaiki dan beberapa jalan utama masih sulit dilalui. Namun, operasi UNRWA telah dilanjutkan.
"Hal pertama yang kami lakukan adalah memastikan bahwa kami mengumumkan sekolah-sekolah telah dibuka," kata Jabr Abu Taqa dari UNRWA.
"Kami tahu betapa pentingnya membawa anak-anak ke tempat yang mereka anggap sebagai tempat yang aman," tambahnya.
Saat dia berjalan melintasi kamp, banyak warga yang cemas menghampirinya.
Seorang pemuda menunjuk ke toko pangkas rambut yang dijarah dan bertanya: "Apa salah tukang cukur itu? Dia tidak punya pekerjaan, uang. Apa yang akan dia lakukan?"
Mustafa Shibah, 70 tahun, mengkhawatirkan cucu-cucunya. Dia menaikkan volume radionya sekeras mungkin selama serangan – tapi anak-anak kecil itu tidak bisa dibohongi.
"Cucuku perempuan terbangun (karena serangan) dan langsung menangis," katanya.
"Mereka khawatir, mereka kesulitan pergi ke sekolah karena jalan (rusak)."
Baginya, ancaman terhadap UNRWA hanyalah contoh terbaru penderitaan warga Nour Shams yang merasa ditinggalkan oleh sesama Palestina.
"Kenapa hanya kami yang harus membayar sementara mereka berpesta di Ramallah dan hidup enak di Hebron?" tanyanya.
Dia mengatakan Israel "merasa bisa melakukan apa saja" tanpa ada yang menghentikan mereka.
(lam)