LANGIT7.ID, Bandung - Jika dibandingkan dengan suara lain seperti musik, murottal atau bacaan Al-Qur'an memiliki tingkat relaksasi terbaik dan lebih bermanfaat bagi perkembangan otak.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus penelitian Dosen Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad, Dr. Andri Abdurochman. Dr. Andri dan tim dari Laboratorium Fisika Instrumentasi (dahulu Instrumentasi Elektronika) mencoba melakukan identifikasi efek suara pada tubuh manusia.
Penelitian yang merupakan research grant Technological and Professional Skill Development Sector Project (TPSDP) itu, Dr. Andri tertarik ingin mengetahui efek gelombang suara pada tubuh manusia. Pada 2007, ia membandingkan suara bacaan (murattal) Kitab Suci Al-Quran terhadap musik klasik dan musik terapi relaksasi untuk digunakan sebagai terapi menurunkan stres.
“Penelitian menunjukkan, suara bacaan Al-Quran memiliki tingkat relaksasi paling baik dibanding musik klasik atau musik relaksasi lainnya,” kata Dr. Andri, dikutip dari laman resmi Universitas Padjadjaran, Rabu (15/9/2021).
Hal itu dibuktikan melalui penelitian pada 2010 terhadap beberapa naracoba anak-anak dan remaja usia sekolah (SD, SMP dan SMA) dari sebuah Yayasan di Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang. Dalam beberapa waktu, anak-anak ini diberikan musik yang bisa meningkatkan stres.
Baca Juga: Inspiratif! Down Syndrome Tak Halangi Muslimah Ini Menghafal 30 Juz Al-Quran
Dr. Andri pun melakukan perekaman otak si anak untuk mengetahui bagaimana frekuensi gelombang otak yang ditimbulkan dari musik pembangkit stres itu. Kemudian sang anak diberikan terapi mendengarkan bacaan Al-Quran selama tiga bulan, kemudian diperdengarkan kembali musik yang bisa meningkatkan stres.
Hasilnya menunjukkan, daya tahan anak terhadap stres pada kesempatan kedua jauh lebih kuat daripada pada saat pemberian musik yang pertama jika dilihat dari rekaman gelombang otaknya.
“Anak yang sudah didengarkan suara bacaan (terapi) Al-Quran akan jauh lebih tenang dan lebih tahan terhadap stres,” ucap lulusan program Doktor di Université de Strasbourg, Perancis itu. Dr. Andri meminta anak-anak tersebut mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki satu kata yang sama. Dia mencari kata di dalam Al-Quran yang bermakna positif lalu mengumpulkan bacaan (murattal) ayat-ayat tersebut.
Dr. Andri mengatakan, efek ini muncul karena relaksivitas yang dihasilkan akibat mendengar bacaan tersebut. Ini disebabkan setiap sel dalam otak manusia punya frekuensi alamiah masing-masing. Pada saat otak diberikan stimulus berupa suara, jika spektrum frekuensi suaranya itu adalah berbanding lurus dengan frekuensi natural sel, maka si sel akan beresonansi.
“Ketika resonansi itu, si sel kemudian bisa aktif atau memberikan sinyal ke kelenjar dalam tubuh untuk mengeluarkan hormon, karena si kelenjar kesehatan itu akan aktif hanya pada kondisi tertentu, misalnya tidur,” tutur Dr. Andri.
Pada saat mendengar bacaan Al-Quran, otak mengalami relaksasi yang baik sehingga seolah-seolah sedang berada dalam keadaan tidur. Pada kondisi tersebut, sel kemudian memberikan sinyal ke kelenjar dalam tubuh untuk mengeluarkan hormon. Kondisi inilah yang dialami oleh seseorang ketika melakukan terapi tersebut.
(jqf)