LANGIT7.ID - Zaid Shakir Salim, menjadi salah satu muslim yang cukup berpengaruh di negara Barat. Tidak hanya berdakwah, ia juga memperjuangkan hak sipil, mendorong kesetaraan ras dan memerangi kemiskinan. Atas perjuangannya, ia menjadi cendekiawan muslim yang dihormati.
Ia kerap kali tampil menjadi pembicara di acara khusus muslim di sana dan muncul dengan mengedepankan suara hati nuraninya untuk kesetaraan hak di masyarakat, termasuk untuk mereka yang non muslim. Alasan itu jugalah yang membuatnya masuk ke dalam daftar cendekiawan Amerika yang paling berpengaruh oleh The 500 Most Influential Muslims.
Lantas siapa sebenarnya Zaid, sehingga bisa menjadi cendekiawan muslim yang berpengaruh di negara Barat?
Zaid lahir di Berkeley, Amerika Serikat 65 tahun silam. Ia memutuskan memeluk Islam, tepatnya pada 1977 saat masih bergabung sebagai tentara di Angkatan Udara Amerika Serikat.
Sejak saat itu pula, muslim dengan nama kelahiran Ricky Daryl Mitchell, menggantinya menjadi Zaid Shakir Salim. Kehidupannya pun turut mengalami banyak perubahan setelah memutuskan memeluk dan mendalami Islam.
Ia sempat menempuh pendidikan bahasa Arab selama satu tahun di Kairo, Mesir. Diketahui saat itu, ia menetap di New Heaven, Connecticut dan mulai aktif di kegiatan sosial.
Ia juga turut berkontribusi dalam pendirian Masjid al-Islam, Tri-State Muslim Education Initiative, dan Connecticut Muslim Coordinating Committee. Ia juga sempat menjadi Imam di Masjid yang ia dirikan, yakni Masjid al-Islam selama enam tahun, sejak 1988 hingga 1994.
Untuk mendalami ilmu Islam lebih jauh, ia merantau hingga ke Suriah dan menempuh pendidikan di sana selama tujuh tahun. Dalam hal itu, Zaid bersama cendekiawan muslim lainnya, secara intensif menggeluti bidang studi tentang bahasa Arab, hukum Islam, studi Al-Quran, dan spiritualitas.
Setelah lulus dari Universitas Abu Noor di Suriah pada 2001, ia memutuskan kembali Connecticut dan kembali menjadi Imam Masjid al-Islam. Tak lama setelah itu, ia memutuskan pindah ke Hayward, California untuk mengabdi di Zaytuna.
Dari sini, kiprahnya mulai tampak mempengaruhi banyak orang. Selain turut mengembangkan Zaytuna College bersama Syaikh Hamza Yusuf dan menjadi Co-Founder. Zaid juga terlibat aktif di sana sebagai pengajar bahasa Arab, hukum Islam, sejarah, dan spiritualitas Islam.
Berkat kegigihannya, ia bersama rekannya mampu menjadikan Zaytuna College menjadi perguruan tinggi muslim pertama yang terakreditasi di AS.
Melalui Zaytuna College, Zaid berharap mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat yang ada. Pasalnya, sebagai minoritas Islam di negara mayoritas Nasrani seperti Amerika Serikat (AS), Islam harus memiliki pondasi yang kokoh berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah di tengah kebudayaan Barat.
“Di negara liberal kami berupaya menjawab banyak pertanyaan seperti ‘Apa peran Tuhan?’ ‘Kenapa Tuhan dan agama sangat penting dalam kehidupan manusia?’ dan lainnya. Kami mendorong seluruh muslim yang ada untuk membentuk pola pikir dan hati nurani agar bisa menjawab semua itu,” ujarnya di kanal Youtube Zaytuna College.
(jqf)