LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Badan Pengurus Harian Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Prof. Dr. Bambang Setiaji, mengatakan, UMAM akan menggelar perkuliahan pada Januari 2022 setelah memenuhi Malaysia Malaysia Quality Assurance (MQA).
Prof Bambang menyebut UMAM sebagai a research university, karena mahasiswa program doktoral lebih banyak. Sekitar 80 persen mahasiswa UMAM dalam 3 tahun pertama adalah tingkat doktor.
Baca Juga: UMAM Jadi Kado Tahun Baru buat Muhammadiyah, Kabar Baik bagi Pengejar Beasiswa
“Proyeksi ke depan semua PT (Perguruan Tinggi) di Indonesia saja 4000 PT semua harus doktor. Sekarang guru guru SD sampai dengan SMA rata-rata sudah S2. Ke depan tidak bisa lagi jika tidak doktor untuk mengajar di Perguruan Tinggi,” kata Prof. Bambang kepada LANGIT7.ID, Kamis (16/9/2021).
Prof Bambang menyebut UMAM berbeda dengan perguruan tinggi lain, pada 3 tahun pertama, program yang ditawarkan adalah jenjang magister dan Philosophy of Doctor (Ph.D).
“Ada PhD In Education, PhD In Business and Economics, PhD in IT, dan PhD in Religion and Social Science,” kata dia.
Program jenjang strata 1 akan dimulai setelah tahun ketiga. Ini karena terkait dengan sumber daya yang tersedia. Program itu didukung sekitar 17 Guru Besar yang sudah purna dari Malaysia dan dipimpin Prof. Dr. Datuk Mohd Noh Dalimin.
Sama halnya di universitas lain, mahasiswa program doktor di UMAM adalah mahasiswa yang datang atau membutuhkan institusi kampus sebagai wadah legal dalam melakukan penelitian untuk mendapat gelar akademik doktor (Ph.D).
Bambang menyebut, di UMAM tidak ada kelas wajib. Mahasiswa UMAM akan sedikit mendapat teori. Kalau pun mendapat kuliah itu hanya bersifat pendalaman saja.
Terkait metode pembelajaran, Prof Bambang menjelaskan, ke depan setiap mahasiswa doktoral di UMAM akan memiliki 2 pembimbing, yakni Profesor dari Malaysia dan profesor atau lektor senior dari Indonesia. Kemudian, salah satu syarat standar kelulusan adalah penelitian lolos di jurnal internasional bereputasi.
Merujuk perundangan Malaysia tentang syarat pendirian universitas yang harus memiliki Sendirian Berhad (Perseroan Terbatas/PT), membuat universitas di Malaysia setara dengan korporasi dan dianggap wajar mengambil profit.
Meski begitu, biaya studi di UMAM sangat terjangkau karena setara dengan biaya studi program master ataupun doktor di universitas dalam negeri. Bahkan, Prof. Bambang menyebut UMAM akan melanjutkan tradisi Muhammadiyah memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa.
“Ada juga (beasiswa),” kata Prof. Bambang. Ia menyebut, UMAM tidak membatasi mahasiswa dari Malaysia saja. Semua pemburu ilmu dari berbagai negara dipersilahkan untuk mendaftar.
Dia berharap penelitian mahasiswa S2 dan S3 UMAM adalah kolaborasi penelitian internasional, baik antara Indonesia dan Malaysia, maupun di luar dua negara tersebut.
“Terutama dari 48 negara anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam) tetapi kita harap ada dari Eropa yang bersedia riset doktor di Malaysia dan Indonesia. Terutama bidang sosial dan agama,” ucap Prof Bambang.
Sementara, untuk jenjang undergraduate akan ada sarjana pendidikan bahasa Inggris, manajemen dan bisnis, E-bisnis, teknologi informasi, dan psikologi.
Tak hanya di Malaysia, Muhammadiyah akan terus melebarkan sayap pendidikan di negara-negara lain. Dalam tiga tahun ke depan, Prof. Bambang menyebut Muhammadiyah berencana mendirikan Universitas di Mesir.
“(Selanjutnya) di Mesir. Semoga 3 tahun lagi. Mesir biaya hidup murah, sehingga menjadi tujuan antar bangsa,” tutur Prof. Bambang.
(jqf)