LANGIT7.ID-, Jakarta - - Perdana Menteri Malaysia,
Anwar Ibrahim, menyatakan bahwa kapal-kapal Malaysia kini telah diizinkan untuk melintasi
Selat Hormuz setelah adanya komunikasi intensif dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk
Iran.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Kamis, Anwar mengungkapkan bahwa ia telah berbicara langsung dengan para pemimpin Iran,
Mesir,
Turki, serta negara-negara regional lainnya untuk meredakan ketegangan dan memastikan keselamatan jalur pelayaran Malaysia.
Anwar juga menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Iran atas keputusan yang membuka jalan bagi kapal-kapal Malaysia untuk melintasi jalur strategis tersebut.
Baca juga: Blokade Selat Hormuz: Hak Kedaulatan Iran dan Standar Ganda Koalisi 22 NegaraIa menambahkan bahwa pemerintah Malaysia saat ini tengah mengupayakan pembebasan
kapal tanker minyak dan para pekerja yang terdampak agar dapat melanjutkan perjalanan pulang.
“Kami sekarang dalam proses membebaskan
kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar Ibrahim, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (27/3/2026).
Menurut Anwar, langkah diplomasi ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mendorong
perdamaian di kawasan Timur Tengah. Namun, ia mengakui bahwa proses tersebut tidak mudah.
“Iran merasa telah berulang kali dikhianati dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa jaminan keamanan yang jelas dan mengikat bagi negara mereka,” katanya.
Sementara itu, pemerintah Malaysia berkomitmen untuk tetap mempertahankan subsidi harga bahan bakar minyak, dengan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak gangguan pasokan energi global.
Salah satu kebijakan yang dipertimbangkan adalah pengurangan alokasi bulanan bahan bakar bersubsidi.
Baca juga: Negara-negara Eropa Kompak Menolak Bantu AS untuk Kirim Kapal Perang ke Selat HormuzAnwar menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz, yang dipengaruhi oleh blokade, konflik, serta terhentinya pasokan minyak dan gas, memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi Malaysia.
“Untuk saat ini, kami terpaksa mengelola situasi karena dampak blokade di Selat Hormuz, perang, dan terhentinya pasokan minyak dan gas semuanya berdampak pada kami,” pungkasnya.
(est)