JAKARTA, LANGIT7.ID -
Slow living kini menjadi tren di tengah ritme kehidupan serba cepat. Gaya hidup ini menawarkan keseimbangan dengan memprioritaskan hal-hal berharga, membantu seseorang untuk hidup lebih bermakna.
Slow living bukan berarti menjalani hidup dengan melambat, melainkan menyesuaikan kecepatan aktivitas sesuai kebutuhan. Menurut Laura Malloy dari Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine,
slow living adalah tentang melakukan lebih banyak hal dengan fokus dan tujuan yang lebih besar.
Konsep
slow living mulai berkembang pada 1980 di Italia, berakar pada prinsip
voluntary simplicity yang dicetuskan oleh Richard B. Gregg dalam bukunya
The Value of Voluntary Simplicity. Gerakan ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, menekankan hidup dengan kesadaran dan intensionalitas.
Baca Juga: Ragam Gaya Modest Fashion dan Seni Dunia Tampil Apik di IstanbulManfaat Slow Living1. Lebih banyak waktu untuk diri sendiriSlow living membantu seseorang lebih memahami diri, mengelola stres, dan menikmati momen berharga. Dengan mengurangi aktivitas seperti
scrolling media sosial, waktu luang dapat dimanfaatkan untuk refleksi.
2. Mempererat hubungan:Gaya hidup ini memungkinkan lebih banyak waktu berkualitas dengan orang terdekat, sehingga hubungan yang renggang dapat diperbaiki.
3. Mengurangi dampak lingkungan:Slow living mendorong kesadaran akan dampak aktivitas terhadap lingkungan, seperti menimbang jejak karbon sebelum bertindak.
4. Menemukan tujuan hidup:Dengan memprioritaskan nilai-nilai penting, seseorang dapat menjalani hidup yang lebih terarah dan bermakna.
Baca Juga: Kisah Sarah, Bule Inggris yang Pindah ke Lombok di Usia 56 Tahun untuk Slow LivingCara Memulai Slow LivingBagi pemula, langkah-langkah sederhana meliputi menikmati rutinitas sehari-hari, berjalan kaki seorang diri, mengambil jeda dari aktivitas, dan mencoba aktivitas baru yang bermakna.
Seperti pembahasan tadi,
slow living adalah pola hidup sadar yang membantu meningkatkan kualitas hidup tanpa terjebak dalam rutinitas cepat nan padat.***
(hbd)