LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (LP3IA), KH Ahmad Bahauddin Nursalim (
Gus Baha), meminta para pejabat dan orang kaya untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.
Limpahan rezeki, harta, hingga jabatan harus bisa bermanfaat bagi banyak orang. Itu merupakan cara bersyukur terhadap nikmat harta dan jabatan. Tidak hanya dikeluarkan dan dimanfaatkan untuk kalangan keluarga sendiri.
Menurut Gus Baha, jabatan yang melekat pada seseorang dari Presiden, Menteri, Rektor hingga Dekan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Oleh karena itu, ia berharap kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat.
Baca juga:
4 Tugas PPIH di Arab Saudi yang Perlu Anda KetahuiGus Baha menekankan, jabatan yang diemban dan harta yang dimiliki harus bisa membantu orang-orang kurang mampu seperti fakir miskin. Itu agar roda ekonomi terus berputar dengan baik sehingga tercipta kesejahteraan di tengah masyarakat.
Gus baha membeberkan fenomena di tengah masyarakat. Dia menyebut, orang miskin umumnya berhutang dengan sesama orang miskin. Barang dan jasa yang dihutangkan pun berkenaan dengan urusan untuk menyambung nyawa agar terus bisa melanjutkan hidup
“Ketemunya antar orang miskin itu urusan beras, utang nyawa. Kan nggak mungkin orang miskin utang ke konglomerat. Sementara orang kaya dengan sesamanya, utang buat rumah dan beli mobil. Di luar sana banyak yang utang nyawa,” kata Gus Baha saat menerima kunjungan Rektor UGM di LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, dikutip Selasa (23/5/2023).
Selain untuk membantu yang lemah, keberadaan orang kaya di masyarakat juga sangat diperlukan. Dengan adanya orang kaya berarti bisa menunjukkan adanya simbol kemakmuran bagi negara.
Baca juga:
Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Besar Indonesia Penulis 115 Kitab“Saya ingin semua kita berguna. Kaya raya itu untuk simbol kemakmuran, agar negara kita dianggap. Kalau miskin terus diinjak-injak oleh negara lain,” jelas Gus Baha.
Saat seseorang jadi kaya raya, maka ia akan diuji untuk bisa membantu dan menolong orang lain. Begitu pun dengan orang miskin, ia pun akan diuji. Orang miskin diuji dengan perasaan hasut dan benci.
"Bisa jadi yang kaya menganggap yang miskin itu fasik atau orang miskin menganggap yang kaya itu borjuis. Tergantung dari cara pandang. Jika cara pandang masyarakat kita selalu ingin memberi maka negara kita akan makmur,” tuturnya.
Meski begitu, harta dan jabatan bukan sebuah tujuan, sebab salah satu nikmat yang sering dilupakan adalah nikmat sehat dengan kondisi fisik yang masih bisa menyantap makan dengan baik dan berpakaian. Hal itu merupakan sesuatu yang harus disyukuri.
“Kenapa nikmat paling kecil ini disebutkan oleh Allah SWT dalam Alquran. Supaya semua merasa punya Tuhan,” katanya.
(ori)