LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap muslim tentu harus memiliki cita-cita, orientasi, dan tujuan hidup, baik bersifat duniawi maupun ukhrawi. Dengan tujuan dan cita-cita tersebut, maka manusia akan meraihnya dengan sungguh-sungguh.
Dalam suatu qaul (perkataan) dikatakan bahwa dalam menggapai kebutuhan dunia, hendaknya setiap manusia bersungguh-sungguh seolah akan hidup selamanya di dunia. Begitupun dengan orientasi ukhrawi dengan dimensi ibadah kepada Allah SWT hendaknya sungguh-sungguh, seakan-akan esok akan menghadap Allah SWT.
Baca Juga: Menteri BUMN Dorong Peningkatan Kapasitas Ekonomi Pesantrenعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam Tafsir asy-Sya’rawi (Akhbarul Yaum, 1991, jilid 3 hal. 1752) menjelaskan makna hadits tersebut dengan menyandarkan kepada surat Ali Imran ayat 133 sebagai berikut:
الناس تفهمها فهماً يؤدي مطلوباتهم النفسية بمعنى: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً: يعني اجمع الكثير من الدنيا كي يَكفيك حتى يوم القيامة، وليس هذا فهماً صحيحاً لكن الصحيح هو أن ما فاتك من أمر الدنيا اليوم فاعتبر أنك ستعيش طويلاً وتأخذه غداً، أمَّا أمر الآخرة فعليك أن تعجل به
Artinya: “Manusia memahami penggalan hadits yang berbunyi “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya” dengan pemahaman yang menuntut terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikologis, yakni pemahaman supaya mendapatkan sebanyak-banyaknya dari dunia ini untuk mencukupi kebutuhan hidup hingga hari kiamat.
Baca Juga: Pemprov Jateng Siapkan Perda Dana PesantrenMenurut beliau, pemahaman seperti itu tidak benar, akan tetapi yang benar adalah bahwa jika engkau tidak bisa meraih sesuatu dari dunia ini pada hari ini, maka berpikirlah sesungguhnya engkau akan hidup lama dan akan dapat meraihnya esok hari. Sedangkan terhadap apa yang terkait dengan akhirat, engkau hendaknya bersegera meraihnya.”
Berdasarkan penjelasan dari Imam Asy-Sya'rawi di atas, pemaknaan yang benar adalah bahwa kita bekerja untuk mendapatkan hal-hal duniawi cukup seperlunya saja. Hal ini karena kita dianjurkan untuk berpikir bahwa kita akan hidup selamanya sehingga hari esok masih ada dan masih banyak waktu untuk melakukannya.
Dalam kaitan ini ada pepatah Jawa yang sejalan dengan pemaknaan seperti itu, yakni: “Ana dina ana upa (ada hari ada nasi).” Artinya selama masih ada kehidupan, rejeki selalu tersedia setiap hari sehingga tidak perlu bekerja mencari dunia secara “ngaya” atau bekerja terlalu keras hingga lupa ibadah dan lupa waktu untuk istirahat.
Baca Juga: Pemerintah Minta Semua Pihak Dukung Pelaksanaan PTM TerbatasDalam Alquran Surat Adz-Dzariyat ayat 56, Allah menjelaskan tujuan jin dan manusia diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah kepada Nya. Begitupun dalam doa iftitah, kita mengucapkan bahwa seluruh ibadah shalat, pengorbanan, kehidupan, dan kematian hanya untuk Allah SWT, Rabb semesta alam.
Maka dengan begitu, hendaknya setiap muslim memiliki orientasi ukhrawi dengan terus meningkatkan amal shaleh dan taqwa sebagai bekal menghadap Allah SWT, namun tidak juga melupakan tugasnya di dunia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjadikannya sebagai ibadah atau bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Baca Juga:
6 Tips Mudah Hafalkan Al Quran, No 5 Jadi Ujian Mutlak
Salah Jurusan Kuliah Dialami 87 Persen Mahasiswa, Ini Tips Cara Baca Bakat(asf)