LANGIT7.ID-Jakarta; Orang cenderung melewatkan sarapan karena mereka terlalu terburu-buru atau tidak fokus atau sekadar tidak lapar di pagi hari.
Melansir dari laman Channel News Asia, seorang ahli diet terdaftar Lindsay Malone, mengatakan beberapa orang cocok dengan sarapan namun juga merasa baik-baik saja tanpa sarapan, tetapi mungkin ada konsekuensi yang tidak di perhatikan.
Menurut ahli, sarapan pagi idealnya berupa kombinasi protein, serat, dan lemak yang menstabilkan gula darah, memberi energi, dan membuat kenyang, sehingga cenderung tidak makan berlebihan di kemudian hari.
Baca juga: Sarapan Bubur Petis, Kuliner Legendaris BumiayuSeseorang makan atau ngemil menjelang tidur, tubuh mungkin masih mencerna makanan dari malam sebelumnya. Namun, saat melewatkan sarapan, kalori yang hilang akan digantikan pada saat sesi makan pada hari itu.
"Dan kemudian Anda mungkin makan sepertiga kalori Anda dengan ngemil setelah makan malam. Tubuh yang mencerna lebih banyak makanan saat seharusnya beristirahat dapat menyebabkan tidur yang lebih buruk dan penambahan berat badan," ujarnya.
Jika seseorang membatasi jam makan dalam sehari atau dikenal sebagai puasa intermiten, dapat membantu penurunan berat badan yang sedang dan menstabilkan gula darah bagi mereka yang menderita diabetes tipe 2, namun tidak boleh asal-asalan.
Baca juga: Sarapan Berkualitas Berhubungan dengan Penuaan yang SehatPenderita diabetes, khususnya, harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk membuat rencana, karena gula darah tinggi atau rendah dapat berbahaya.
"Sarapan mungkin tidak cocok untuk setiap orang. Jika Anda mendapatkan cukup nutrisi untuk tubuh Anda di kemudian hari, itu bagus," ujarnya.(*)
(lam)