LANGIT7.ID-,Jakarta; Kabar menggembirakan datang dari Uni Eropa yang menyatakan siap mengirim tim pemantau ke perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir. Hal ini disampaikan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik di wilayah tersebut.
"Kami siap melakukannya," ungkap Kaja Kallas selaku kepala kebijakan luar negeri UE dalam keterangannya setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Palestina Mohammed Mustafa di Brussels, dikutip Sabtu (18/1/2025).
Kallas menerangkan bahwa langkah ini masih menunggu undangan resmi dari Palestina dan Israel, serta perlu mendapat persetujuan dari pemerintah Mesir sebelum bisa dilaksanakan.
Sebenarnya, UE yang beranggotakan 27 negara ini pernah mengirim tim pemantau sipil pada tahun 2005. Namun, kegiatan tersebut terpaksa dihentikan dua tahun kemudian ketika Hamas mengambil kendali Gaza.
Pernyataan ini muncul bersamaan dengan pertemuan kabinet keamanan Israel yang digelar Jumat ini. Mereka akan membahas dan memberikan suara untuk kesepakatan gencatan senjata Gaza serta rencana pembebasan sandera yang dijadwalkan mulai berlaku akhir pekan ini.
Apabila kesepakatan ini disetujui, maka pertempuran dan serangan di Gaza yang telah memakan banyak korban jiwa akan dihentikan. Selain itu, puluhan sandera yang ditahan sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 akan dibebaskan mulai hari Minggu.
Meski menyebut kesepakatan ini sebagai "terobosan positif", Kallas tetap mengingatkan bahwa perjalanan menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan. "Kita belum bisa memastikan apakah perang ini benar-benar akan berakhir. Di setiap langkah masih ada risiko yang harus dihadapi," jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, UE telah mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar 120 juta euro (sekitar Rp 2 triliun) untuk Gaza pada hari Kamis, setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai. "Uni Eropa berkomitmen terus bekerja sama dengan para mitra untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan," tegas Kallas.
Pihak Mesir juga tengah membahas rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah, yang merupakan akses vital ke Gaza, untuk memperlancar pengiriman bantuan ke wilayah tersebut. Dalam misi pemantauan ini, UE berencana mengirimkan hingga 10 staf dari Eropa.
Kallas juga menyampaikan rencana jangka panjang UE untuk membantu pemulihan Gaza. Mereka sedang menyiapkan "program dukungan multi-tahun yang baru untuk Otoritas Palestina" dan menyatakan kesiapan membantu proses pembangunan kembali Gaza.
(lam)