LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang mubaligh dengan ceramah yang cerdas, tegas namun humoris menyeruak ke publik beberapa tahun belakangan. Ya, ceramahnya yang memukau telah memikat hati banyak orang. Dari majelis taklim, masjid-masjid, stasiun televisi hingga tak tanggung-tanggung di hadapan para jenderal, pesan rabbani dari da’i doktor ilmu komunikasi ini mengetuk hati setiap muslim dengan cara yang menarik.
Dialah Ustadz Das’ad Latif, dai dengan logat kental khas bugis ini kini jadi salah satu mubaligh favorit masyarakat. Pesan-pesannya mengingatkan masyarakat dengan gaya khas dan cerdas membuat publik terpikat dan mengikuti ajakan baiknya.
Misalkan pada masa pandemi covid-19 semakin parah, Ustadz Das’ad mengingatkan publik agar untuk sementara waktu menahan diri shalat berjamaah di masjid dan shalat di ramah saja. Tausiyah beliau bahkan diunggah di akun media sosial beberapa kepala daerah di antaranya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Dalam kesempatan yang lain, Ustadz Das’ad tak sungkan menyentil langsung perilaku oknum kepolisian yang kurang jujur langsung di hadapan para petinggi Polri.
Ternyata salah satu rahasianya adalah karena beliau merupakan Dosen Ilmu Komunikasi. Ustadz Das’ad tidak hanya berteori tetapi juga mempraktikkan teori-teori komunikasi yang dipelajari dan diajarkannya. Wartawan LANGIT7.iD Muhammad Rifai Akif berkesempatan berbincang dengan Ustadz Das’ad seputar rahasia dibalik ceramahnya hingga perspektifnya sebagai pakar komunikasi terhadap perkembangan media massa dan media Islam. Berikut kutipan wawancaranya.
Bagaimana ceramah Ustadz Das'ad bisa memikat banyak orang? Darimana ustadz belajar? Apakah ada kaitannya dengan latar keilmuan ustadz sebagai doktor di bidang komunikasi?Saya sangat yakin diminatinya dakwah saya karena ada ilmu komunikasi, S1-S3 saya belajar tentang komunikasi, bagaimana komunikasi efektif, komunikasi persuasif.
Dan Alhamdulillah Allah takdirkan saya sampai sekarang mengajar mata kuliah
public speaking, yang mana fokus belajar bagaimana berpidato di depan umum.
Jadi, ilmu agama saya yang dasar-dasar saja, tapi karena saya tahu bagaimana cara mengkomunikasikan, akhirnya lebih gampang diterima.
Faktor kedua, karena konten dakwah saya terkait kehidupan sehari-hari, yang lebih fokus kepada akhlak, bagaimana sikap orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, istri kepada suami ataupun sebaliknya, bermasyarakat dan sebagainya.
Kalaupun ada kritik tentang kepemimpinan, itu sangat sedikit dan saya berupaya untuk menyampaikannya dengan metode komunikasi, sehingga yang mendengarnya tidak merasa disakiti, tetapi dia disentil. Cara menyentilnya itu perlu ilmu, dan itu ilmu komunikasi.
Adakah tips amalan atau bacaan yang biasa Ustadz lakukan untuk membantu ketenangan hati sebelum berceramah?Amalan saya adalah doa yang diajarkan nabi Musa ketika ingin berhadapan dengan Firaun.
Robbisrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wah Lul Uqdatan Min Lisani Yafqohu Qouli.
Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
Lalu saya tambahkan doa dalam bahasa Indonesia,
"Ya Allah tambahkan ilmu pengetahuan, bukakan pintu hati dan pikiran saya dalam berdakwah, berikan saya kemampuan dalam menyampaikan pesan-pesan agamaMu dengan baik, benar dan punya daya tarik."
Selain itu amalan rahasia saya adalah minta ridho orang tua. Setiap saya beraktivitas dari dahulu saya selalu minta ridho dari orang tua. Saya selalu sempatkan untuk mengabari orang tua, sampai detik ini.
Jadi dua, berdoa kepada Allah dan minta didoakan orang tua.
Sebagai Doktor ilmu komunikasi, bagaimana ustadz melihat media hari ini? apa peran yang bisa media Islam lakukan?Media massa ada 4 fungsinya, fungsi informasi, fungsi edukasi, fungsi hiburan, fungsi kontrol atau kritik.
Saat ini saya melihat media saat ini yang dominan adalah fungsi hiburan, seharusnya fungsi edukasi dan informasi yang dominan.
Selanjutnya saya melihat fungsi kontrol, fungsi kontrolpun sangat lemah, terutama media-media online, sangat malas menginvestigasi, sangat malas mencari berita, hanya mengutip. Dan ada yang mengutipnya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik, "menurut sumber yang tidak mau disebut namanya", cara aman yang salah.
Solusinya adalah memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia wartawan kita.
Kemudian media-media Islam harus bangkit, tapi berkaitan dengan sponsorship, berkaitan dengan uang, dana.
Media ini adalah industri, industri butuh modal. Rata-rata media Islam hancur karena tidak punya pemodal. Pemodal ini tentu tidak mau investasi dana begitu saja tapi tidak kembali. Dan dana media biasanya kembali kalau banyak pengiklan.
Saat ini TV, Radio, Koran, rata-rata butuh pengiklan. Karena pemirsanya sudah semakin sedikit, pengiklan pun akhirnya lari ke selebgram, youtuber, google, mereka (pengiklan) mengiklankan kesitu, karena pemirsanya sudah pindah.
Jadi, media Islam harus banyak pemirsanya, agar dilirik oleh pengiklan. Kalau tidak ada pengiklan bagaimana mau dapat sumber kehidupan.
Berikut biodata Ustadz Das'ad Latif yang dikutip dari berbagai sumber:
Nama Asli : DR H Das'ad Latif, S.Sos, S.Ag, M.Si, PhD
Pekerjaan : Dosen di Universitas Hasanuddin Makassar, STIKOM FAJAR Makassar. STIE AMKOP Makassar, Universitas Islam Makassar, STIM NITRO Fajar Makassar
Tempat Tanggal Lahir: Bungi, 21 Desember 1973
Instagram: @dasadlatif1212
Riwayat Pendidikan :
-SDN Inpres 169 Kabupaten Pinrang (1980 – 1986)
-SMPN Bungi Kabupaten Pinrang (1986 – 1989)
-SMAN 4 Ujungpandang (1989 – 1992)
-Jurusan Peradilan Agama Fak. Syari’ah IAIN Alauddin (1992 – 2000)
-Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unhas (1994 – 1998)
-Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Unhas (1999 – 2004)
-S3 Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) (2019 – 2012)
-Penyelesaian S3 ilmu syari’ah Universitas Islam Makassar (Tahun 2012 – sekarang).
(jqf)